Senin, 23 September 2019

PENGHARGAAN TERHADAP KEPENTINGAN INDIVIDU

Oleh:


Abdul Syani




Dalam pergaulan hidup bermasyarakat sering kali orang tidak menganggap penting untuk
mengingat dengan benar siapa, dari mana, dan apa potensi orang lain pada waktu terjadi
interaksi dan dialog. Memang sulit untuk selalu mengingat-ingat karakteristik orang lain
yang begitu banyak, dalam berbagai peristiwa dan dalam waktu yang panjang, apalagi
jika rutinitas waktu terjadi interaksi dan dialog itu berbatas pada jarak waktu lama dan
tidak berkesinambungan. Semakin jarang, lama, rendahnya kuantitas dan kepentingan
pertemuan dengan orang lain, maka akan semakin kecil kemungkinan orang akan saling
mengingat dan merasa saling berkepentingan. Jika demikian, ada kecenderungan masingmasing pihak, baik individu maupun kelompok tidak merasa perlu untuk memberikan
dukungan, kehormatan atau penghargaan kepada orang lain. Hal ini terjadi karena pada
waktu terjadi interaksi dan dialog tidak ada kesan atau peristiwa berarti bagi masingmasing pihak, baik bersifat emosional maupun kepentingan atau harapan yang dianggap
menguntungkan.

Dalam pertemuan-pertemuan formalitas atau perkumpulan-perkumpulan yang tidak
langsung berkaitan dengan kepentingan pribadi, biasanyanya akan berlalu begitu saja
tanpa kesan yang berarti. Biasanya setiap orang rata-rata tetap pada posisinya sebagai
individu yang cenderung hanya menaruh minat untuk pengamanan diri sendiri.
Perkumpulan-perkumpulan semacam ini sama dengan peristiwa kerumunan, keramaian
pasar atau kejadian-kejadian secara kebetulan lainnya, tanpa ikatan perasaan dan
kepentingan bersama, sehingga nilai-nilai persahabatan tidak ditemukan, tak ada pujian
dan penghargaan yang tulus. Kelemahan terbesar dalam membangun kerjasama yang
produktif adalah mengangap remeh potensi hubungan sosial dalam suatu kerjasama
dengan alasan klasik bahwa kegiatan ini hanya akan membuang waktu, terlalu sibuk atau
karena terlalu besar berkonsentrasi terhadap kepentingan pribadi. Kadang-kadang dalam
suatu pertemuan atau percakapan, berakhir begutu saja tanpa kesan, bahkan pada waktu
mengucapkan ”see you again”, langsung tak ingat lagi pokok pembicaraan, bahkan
namanyapun lupa. Padahal dalam suatu fakta emosional bahwa jika seseorang mampu
memberikan kesan antusias terhadap orang lain, maka ada kecenderungan orang lain
amat sukarela melaksanakan perintahnya, bahkan akan merasa amat bangga kalau
diberikan kesempatan menjalankan perintahnya, sekalipun untuk membersihkan
sepatunya.

Kepribadian seseorang yang merasa terhormat karena memiliki kelebihan status sosial
ekonomi dibandingkan anggota masyarakat lainnya, cenderung mempengaruhi perubahan
sikap perilakunya yang menunjukkan sifat otoriter. Kepribadian ini membawa kebebasan
untuk bertindak berdasarkan ego dan kepentingannya sendiri, dan sedikit kepedulian
terhadap orang lain. Tumbuh anggapan bahwa status orang lain yang berada di bawahnya
hanya diperlukan untuk bekerja kasar dengan imbalan murah; orang lain hanya
membutuhkan pertolongan dan oleh karenanya orang lain tak diharapkan dapat
membantu.

Ketika usai pesta, tiba-tiba seorang manajer memanggil pembantunya dengan perintah
sentak segera menata peralatan yang berantakan dan berkata:

”Udin...!, kesini kamu, sudah tahu kalau tamu sudah pulang, apa kamu nggak lihat
barang-barang brantakan.., malah enak-enak ngobrol!”


Si Udin kaget dan buru-buru melaksanakan perintah. Dalam hati dan kepala Udin
berkecamuk bercampur aduk yang kira-kira ingin mengatakan:

”Kelemahan saya tak berani karena tak punya, bapak tak mengerti kesulitan dan
peraaan orang lain, berarti sesungguhnya bapaklah yang memiliki kekurangan. Orangorang seperti bapak tak patut dihormati, saya malas menata peralatan-peralatan ini,
mudah-mudahan pada suatu ketika bapak miskin, supaya tahu seperti apa rasanya
miskin seperti saya”.


Seandainya manajer ini sedikit saja mengerti perasaan dan memiliki teleransi terhadap
Udin, sehingga dapat bersikap ramah dengan uangkapan:

”Din..., tolong ya.., kalau nanti sudah senggang, itu peralatan yang sudah selesai
dipakai, ditata lagi”.


Dengan begitu, barangkali Udin malah merasa terhormat dan merasa diperlakukan lebih
manusiawi. Dalam hatinya berkata:

”Saya merasa malu, bapak begitu baik, mengerti nasib orang kecil, berarti bapak orang
yang patut dihormati. Saya berjanji akan bekerja dengan jujur, saya tidak bisa membalas
kebaikan bapak, kecuali dengan tenaga, saya beruntung menjadi pembantu bapak,
mudah-mudahan bapak panjang umur dan banyak rezeki”.


Banyak sekali rahasia keberhasilan orang dalam pergaulan, sukses menjadi terhormat dan
menjadi idola bagi banyak. Tak semua orang dapat mengungkap rahasia sederhana ini,
sedikit orang yang mampu merealisasikannya dalam kehidupan masyarakat, karena tak
mampu bercermin pada diri sendiri, tak merasa perlu menelusuri kepentingan hakiki
orang lain. Dengan bertambah rumit dan beragamnya paradigma dalam upaya memenuhi
kepentingan hidup di tengah-tengah masyarakat yang semakin kompleks, orang
cenderung lebih suka memilih jalan pintas dan aji mumpung, sehingga mengakibatkan
tindakan semakin subyektif individualistik. Oleh karena itu penting sekali belajar
memahami pendapat, kehendak, perasaan dan kehormatan orang lain, sehingga dengan
demikian kepentingan penghargaan atas diri sendiri akan terpenuhi, karena orang lainlah
sumber dari segala kesuksesan, apresiasi dan kehormatan diri di dalam kehidupan
masyarakat.

Dalam kehidupan ini siapapun orangnya, tidak bisa dipungkiri semua membutuhkan
penghargaan atas kebanggaan diri atau karena jasa-jasanya, baik bagi yang berpangkat
tinggi ataupun rendah, yang miskin ataupun kaya, pejabat tinggi ataupun bagi pelayan
kantor. Seorang asisten rumah tangga yang tiap hari bekerja mulai dari membersihkan
lingkungan rumah, mencuci, menyetrika, sampai dengan memasak makanan, tentu juga
membutuhkan penghargaan, setidaknya berupa tegur sapa, kata pujian dan tidak
membedakan perlakuan antara anggota keluarga dengan dirinya,syukur jika sesekali
memberi bonus atau hadiah atau tunjangan atas jasa-jasanya itu. Dengan perlakuan
demikian, di mana majikanlebih respect dan menghargai kedudukan para asistennya
sebagai “benteng rumah tangga terdepan” yang telah sukarela berkorban demi
kenyamanan keluarga majikannya, maka niscaya mereka yang berada pada status level
bawah sekalipun akan merespon kebaikkan majikannya dengan penghargaan yang lebih
tinggi pula. Jika tidak dengan uang sebagai status ketiadaan mereka, maka akan diberikan
kehormatan berupa kejujuran, bekerja lebih giat, atau paling tidak memberikan
pengakuan ikhlas dari hati nurani dengan doa yang terbaik untuk majikannya.

Pada hari sabtu akhir minggu seorang majikan dan keluarganya sekaligus mengajak para
asisten rumah tangganya termasuk supir pribadinya untuk makan malam bersama di
sebuah restoran yang lumayan terkemuka di kotanya. Keluarga majikan dengan para
asistennya itu duduk bersama dengan menu makanan yang sama, hampir tidak ada
perbedaan perlakuan diantara mereka, kecuali para asistennya itu yang tahu diri dalam
berperilaku. Dari perbincangan di tengah berlangsungnya makan bersamapun bebas,
seraya majikan berucap:

“ayo kita makan, ambil menu mana suka, ga usah sungkan, kita ini saudara dari kelarga
dan rumah yang sama, ndak usah khawatir, semuanya bapak (menunjuk dirinya) yang
bertanggungjawab”


Salah satu asisten rumah tangganya menanggapi singkat:

“ya tuan, terima kasih banyak atas kebaikannya”.

Dalam hatinya mungkin lebih lanjut mengatakan:

“terima kasih ya Tuhan, engkau telah mempertemukan kami dengan majikan yang sangat
baik, mengerti dan mau menghormati kami dengan perlakuan yang sangat istimewa,
padahal mereka orang kaya dan terhormat, semoga keluarga bapak (majikannya) selalu
sehat dan dilimpahkan rejeki, aamiin..”


Akan tetapi sebaliknya jika majikan tidak memiliki empati terhadap para asisten rumah
tangganya, tidak atau bahkan jarang memperlakukannya dengan kesetaraan manusiawi
sebagaimana harapan orang pada umumnya, maka seringkali akan direspon dengan
tindakan malas-malasan, kurang bersemangat dan seolah-olah tidak ikhlas dalam
menjalankan pekerjaan sehari-hari; meskipun mereka tetap mengikuti standar prosedur
yang berlaku dalam bekerja.

Sekian banyak dari manusia sebagai makhluk sosial yang bernilai sebesar mungkin dalam
hidupnya bercita-cita untuk mengejar segala sesuatu yang bisa menaikkan status sosial,
derajad dan kehormatan diri di mata masyarakat. Secara moral segala simbol kehormatan
ini seharusnya diperjuangkan dengan kerja keras, penuh dengan kejujuran dan berusaha
untuk menghormati pribadi dan karya orang lain. Sebaliknya bukan usaha dengan caracara culas (curang), menipu, jalan pintas dan didorong oleh kesombongan, seperti
menggelapkan surat-surat kredit perumahan atau pinjam uang untuk membeli kendaraan
mewah untuk tujuan agar bisa dihargai dan diterima oleh lingkungan sosialnya. Serigkali
banyak orang salah langkah dalam keterburuannya ingin dihormati, sampai-sampai lupa
ia tak bercermin enggan atau bahkan tak pernah menghormati orang lain, sehingga orang
sering murka tidak terima atas kenyataan tidak memperoleh kehormatan yang dirasakan
mendesak itu. Bisa saja kehormatan itu di dapat pada waktu ia menduduki jabatan
penting pada suatu perusahaan milik negara (BUMN), tapi setengah hati atau tidak rela
jika selama ia menjabat tidak pernah menghormati atau setidaknya memperlakukan para
karyawannya dengan baik, dan konsekuensinya setelah masa jabatannya itu selesai, maka
selesai pulalah kehormatan yang selama itu diperoleh dari para karyawannya.

Jika memang begitu penting suatu kehormatan atas keberadaan diri dalam kehidupan
masyarakat, maka setiap orang harus dapat menjadikankegiatan menghormati orang
sebagai prinsip hidup, agar setiap orang menjadi sama-sama terhormat dalam kehidupan
masyarakat itu. Banyak cara menghormatai orang lain, bisa dengan bentuk bicara santun,
ramah, loyal, rendah hati dan diekspresikan dengan perilaku yang menyenangkan.
Seorang pimpinan dalam struktur lembaga pemerintahan dalam usahanya memotivasi
pegawai agar meningkatkan disiplin kerjanya agar dapat menghasilkan produk pelayanan
yang baik kepada masyarakat. Di hadapan forum apel bendera sebagai pemimpin
upacara, lalu dengan rendah hati dimulai dari memberikan senyuman yang tulus dengan
mengucap salam hormat, terimakasih atas partisipasinya dan mohon maaf atas segala
kekurangan kepada para pegawai. Kemudian berkata:

“Saudara-saudara, mari kita bersama-sama meningkatkan disiplin kerja, khususnya
dalam pelayanan kepada masyarakat, dalam praktiknya secara bertahap kita belajar
menghormati hak dan kepentingan orang lain. Jangan memihak kepada tingginya status
sosial, jabatan, pangkat atau hartanya. Perlakukanlah mereka secara adil dengan
memberi kesempatan dan kemudahan yang sama, seperti kala kita sama sedang
membutuhkan pelayanan seperti mereka. Kita ini paratur pemerintah yang sesungguhnya
memegang amanah dan tanggungjawab yang besar untuk mengabdi pada rakyat sebagai
warga negara”.


Dalam pandangan hidup piil pesenggiri (Lampung) sebagaipedoman dalam tata pergaulan
untuk memelihara kerukunan, kesejahteraan dan keadilan, berkaitan dengan perasaan
kompetensi dan nilai pribadi, atau merupakan perpaduan antara kepercayaan dan
penghormatan diri. Seseorang yang memiliki Piil Pesenggiri yang kuat, berarti
mempunyai perasaan penuh keyakinan, penuh tanggungjawab, kompeten dan sanggup
mengatasi masalah-masalah kehidupan. Abdul Syani (2018) selanjutnya menjelaskan
bahwa etos dan semangat kelampungan (spirit of Lampung)piil pesenggiri itu mendorong
orang untuk bekerja keras, kreatif, cermat, dan teliti, orientasi pada prestasi, berani
kompetisi dan pantang menyerah atas tantangan yang muncul. Semua karena
mempertaruhkan harga diri dan martabat seseorang untuk sesuatu yang mulya di tengahtengah masyarakat. Piil pesenggiri mempunyai nilai-nilai nasionalisme budaya yang
luhur yang perlu di dipahami dan diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara. Piil Pesenggiri sejatinya tidak diungkapkan melalui pemujaan diri sendiri
dengan mengorbankan orang lain atau dengan mengagungkan seseorang yang jauh lebih
unggul dari orang lain, atau menyengsarakan orang lain utk membahagiakan seseorang.
Seorang yang memiliki harga diri akan lebih bersemangat, lebih mandiri, lebih mampu
dan berdaya, sanggup menerima tantangan, lebih percaya diri, tidak mudah menyerah dan
putus asa, mudah memikul tanggung jawab, mampu menghadapi kehidupan dengan lebih
baik, dan merasa sejajar dengan orang lain.

Karakteristik orang yang memiliki harga diri yang tinggi adalah kepribadian yang
memiliki kesadaran untuk dapat membangkitkan nilai-nilai positif kehormatan diri sendiri
dan orang lain, yaitu sanggup menjalani hidup dengan penuh kesadaran. Hidup dengan
penuh kesadaran berarti mampu membangkitkan kondisi pikiran yang sesuai kenyataan
yang dihadapi, bertanggung jawab terhadap setiap perbuatan yang dilakukan. Arogansi
dan berlebihan dalam mengagungkan kemampuan diri sendiri merupakan gambaran
tentangrendahnya harga diri atau runtuhnya kehormatan seseorang (Abdul Syani, 2010:
http://blog.unila.ac.id/abdulsyani/).

Dalam unsur Juluk-adok (Lampung=panggilan dan gelar adat) terkandung asas identitas
dan sebagai sumber motivasi bagi anggota masyarakat (Lampung) untuk dapat
menempatkan hak dan kewajibannya, kata dan perbuatannya dalam setiap perilaku dan
karyanya. Demikian juga sebagai pimpinan aparat pemerintah yang memiliki
tanggungjawab moral selama memikul statusnya agar dapat diimplementasikan sesuai
dengan peranannya. Sebagai aparat pemerintah bertanggungjawab dengan peranannya
dalam membimbing, mengarahkan,memberikan pencerahan, membangun semangatdan
memberi contoh perilaku pelayanan yang baiksesuai dengan amanah undang-undang atau
norma hukum yang berlaku. Idntitas ini sama halnya dengan makna gelar akademik yang
di sandang oleh sebagian besar warga masyarakat, pimpinan atau aparat pemerintah yang
seharusnya dapat diamalkan sebagai suri teladan dalam setiap kegiatan, pergaulan, dan
dalam hubungan masyarakat atau dalam rutinitas kerja pelayanan masyarakat pada
umumnya. Sebagai Sarjana Hukum, sesuai dengan gelar akademiknya ia harus mampu
menunjukkan jati dirinya yang ahli hukum, sadar hukum, patuh hukum, mampu
memberikan pencerahan hukum, dan mampu memberikan pelayanan hukum kepada
masyarakat secara adil. Dalam praktiknya para Sarjana Hukum diharapkan dapat
menegakkan hukum dengan tidak berpihak pada golongan, kepentingan atau jabatan
tetentu, tapi berpihak pada kebenaran bagi pencari keadilan, tumpul di bawah tajam di
atas.

Seseorang yang menyandang gelar adat ataupun gelar formal pendidikan, harus mampu
berbuat sesuai dengan hak dan tanggungjawab yang terkandung dalam gelar itu secara
ideal. Dengan gelar seseorang harus mampu memberi teladandalam sikap perilaku,dan
memotivasi masyarakat dalam aktivitas-aktivitas yang bermanfaat bagi masyarakat,
khususnya menunjukkan kemampuan mengatur rumah tanganya sendiri dengan sumber
dayanya sendiri dalam menciptakan kesejahteraan bersama. Sesuai dengan falsafah
pemersatu masyarakat adat Lampung yang mengajarkan bahwa "mabulat khupa iyuk,
malukhus khupa sepuk"; bulat seperti bambu peniup api, lurus seperti jalannya panah,
Artinya sikap mental seiya-sekata (persatuan dan kesatuan) antarwarga sepatutnya
memang dimiliki demi mencukupi kepentingan bersama suatu lingkungan, komunitas
atau negara. Sebaliknya sanksi sosial bagi seseorang yang ingkar terhadap tanggungjawab
gelarnya, maka dalam pandangan hidup piil pesenggiri ia akan di cap sebagai orang yang
tidak punya malu.

Demikian juga dalam prinsip sakai-sambayan (Lampung=tolong menolong dan gotong
royong), bahwa mengajak kerjasama dalam urusan pembangunan dan kemasyarakatan
menunjukkan bahwa orang lain diperhitungkan dan berguna bagi kelompok atau
kerabatnya. Standar nilai yang dipakai dalam pelaksanaan tolong menolong adalah moral
dan keikhlasan (kerelaan) terhadap apa yang diberikan tanpa mengharapkan imbalan
secara tegas sebagaimana perhitungan untung rugi. Suatu kebanggaan, kehormatan dan
kepuasan bagi orang Lampung jika ia telah dapat memberikan sesuatu atau bantuan
terhadap orang lain dan kerabatnya. Orang lampung merasa tidak terpandang atau tidak
terhormat apabila ia belum mampu berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan atau
belum mampu memberikan pertolongan yang bermanfaat kepada orang lain yang
membutuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan tolong menolong merupakan
bagian penting atau konsekuensi yang harus dipertahankan dan dikembangkan apabila
pribadi dikehendaki tetap terhormat.

Dalam buku Manajemen Organisasi (Abdul Syani, 1987) dijelaskan bahwa ketika
efektivitas hubungan manusia semakin menjadi dewasaa dan semakin berdasarkan pada
hasil pemikiran, penelitian atau riset, maka kemudian istilah organisasi semakin diperlukan dalam rangka menjelaskan hubungan-hubungan manusia itu dalam melakukan
pekerjaannya. Kini Organisasi sudah tumbuh, sebuah organisasi sekaligus sebagai badan
sosial, disamping juga merupakan aktivitas ekonomi. Pada situasi demikian ini oleh
Ernest Dale dan L.C. Michelon (1986), menerangkan bahwa dalam suatu organisasi perlu
adanya seorang pemimpin yang benar-benar dapat diterima oleh para anggota-anggota
lain dalam organisasi tersebut. Dikatakan,.... sebagai pemimpin seperti yang disebut di
atas adalah orang yang dapat membantu mereka (para anggotanya) meraih tujuannya dan
dalam banyak urusan serta keadaan perusahaan, tujuan anggota-anggota kelompok itu
sejalan dengan tujuan perusahaan sampai pada tingkat tertentu. Mengapa harus
demikian....? Karena mereka ingin rasa berprestasi dan mereka ingin bertumbuh dalam
tugasnya, dipromosikan, dinaikkan gajinya dan seterusnya. Manajer yang dapat
membantu meraih ambisi mereka karena dia tabu lebih baik dan sabar mengajar mereka
bisa lama sertahan sebagai pemimpin yang diakui.

Kepemimpinan demikian sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan suatu organisasi,
terutama dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya. Menurut George R. Terry (1984),
bahwa suatu badan sosial dan aktivitas ekonomi ...., dapat memberikan stimulus yang
berpengaruh kepada banyak orang dan secara timbal balik pula terhadap organisasi;
berpengaruh Pula kepada individu-individu dan .tampaknya berpengaruh pula kepada
organisasi. Dalam organisasi, orang-orang berusaha untuk menjalankan peranan
sedemikian rupa, laporan mendapat pengakuan dan persetujuan oleh anggota-anggota
organisasi lainnya. Banyak orang percaya bahwa organisasi dapat meningkatkan hidup
dan penghidupan seorang individu. Orang yang sebelumnya kecilmeniadi besar, orang
yang besar menjadi lebih besar lagi. Hal ini arena di dalam organisasi seseorang
ditempatkan di dalam situasi yang mengandung tantangan dan akan mendapatkan
bantuan, dukungan dan kerjasama yang jauh di atas kemampuan diri sendiri dalam setiap
melaksanakan (dan menyelesaikan suatu pekerjaan). Kerjasama ini dimaksudkan sebagai
proses dari fungsifungsi melalui pekerjaan dari orang-orang, pejabat-pejabat atau para
ahli dengan terintegrasi secara keseluruhannya dengan menemukan keseimbangannya
yang paling baik, kendatipun dalam spesialisasinya terdapat kekuatan-kekuatan yang
berbeda atau bahkan mungkin berlawanan.

SOLIDARITAS SOSIAL SEBAGAI INSTRUMEN TEKNOLOGI SOSIAL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT

 Oleh
Abdul Syani

Solidaritas Sosial (kesetiakawanan sosial) berawal dari sebuah tatanan masyarakat pasca pencerahan yaitu masyarakat modern awal. Ketika karya sosiologi mulai menjadi legitimasi ilmiah, segala problem masyarakat dan kegiatan masyarakat menjadi bahan penelitian dari sosiologi. Tidak
terlepas mengenai sistem sosial dalam masayarakat modern awal. Atas dasar
semangat pencerahan tersebut timbul satu konsepsi dalam kajian sosiologi apa yang
disebut solidaritas sosial (http://www.gomarketingstrategic. com/2016/07/pengertiansolidaritas-dalam-masyarakat.html).
 

Solidaritas sosial adalah perasaan emosional dan moral yang terbentuk pada
hubungan antar individu atau kelompok berdasarkan rasa saling percaya, kesamaan
tujuan dan cita-cita, adanya kesetiakawanan dan rasa sepenanggungan.Menurut
KBBI (Depdiknas, 2007), solidaritas adalah sifat (perasaan) solider, sifat satu rasa
(senasib), perasaan setia kawan yang pada suatu kelompok anggota wajib
memilikinya. Sedangkan sosial adalah berkenaan dengan masyarakat, perlu adanya
komunikasi dalam usaha menunjang pembangunan, suka memperhatikan
kepentingan umum.
 

Konsep solidaritas diperkenalkan dalam teori sosiologi oleh Emile Durkheim pada
tahun 1858. Menurut Durkheim, solidaritas merupakan suatu keadaan hubungan
antara individu dan atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan
kepercayaan yang dianut bersama dan diperkuat oleh pengalaman emosional
bersama. Solidaritas menekankan pada keadaan hubungan antar individu dan
kelompok dan mendasari keterikatan bersama dalam kehidupan dengan didukung
nilai-nilai moral dan kepercayaan yang hidup dalam masyarakat. Wujud nyata dari
hubungan bersama akan melahirkan pengalaman emosional, sehingga memperkuat
hubungan antar mereka (https://www.kajianpustaka.com/2018/03/ pengertian-jenisdan-bentuk-solidaritas-sosial.html).
 

Secara etimologis, Solidaritas adalah kesetiakawanan atau kekompakan. Menurut
Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI), Solidaritas berasal dari kata Solider yang
berarti mempunyai atau memperlihatkan perasaan bersatu. Sedangkan menurut
Wikipedia, pengertian solidaritas adalah integrasi, tingkat dan jenis integrasi,
ditunjukkan oleh masyarakat atau kelompok dengan orang dan tetangga mereka. Jadi
solidaritas adalah membangun rasa kebersamaan, rasa kesatuan kepentingan, rasa
simpati, sebagai salah satu anggota dari kelas sama atau dapatdiartikan perasaan atau
ungkapan dalam kelompok yang dibentuk oleh kepentingan bersama.
 

Secara umum, solidaritas dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: solidaritas mekanik dan
solidaritas organik.


1. Solidaritas Mekanik
Solidaritas Mekanik adalah solidaritas yang muncul pada masyarakat yang
masih sederhana dan diikat oleh kesadaran kolektif serta belum mengenal
adanya pembagian kerja diantara anggota kelompok. Ciri-ciri solidaritas
mekanik yaitu merujuk pada ikatan sosial yang dibangun atas dasar
kebersamaan, kepercayaan dan adat bersama. Solidaritas ini disebut dengan
solidaritas mekanik karena orang yang hidup dalam unit keluarga, suku
maupun kota bisa berdiri sendiri dan memenuhi kebutuham hidup mereka
tanpa bergantung pada kelompok lain. Solidaritas seperti ini terjadi dalam
masyarakat pedesaan. 


2. Solidaritas Organik
Solidaritas Organik adalah solidaritas yang mengikat masyarakat yang sudah
kompleks dan sudah mengenal pembagian kerja yang teratur sehingga
disatukan karena adanya sifat saling ketergantungan antar anggota. Ciri-ciri
solidaritas organik yaitu menguraikan tatanan soaial berdasarkan
perbedaan individual antar rakyat. Solidaritas seperti ini terjadi di masyarakat
perkotaan.
 

Menurut Durkheim, masyarakat solidaritas organik dibentuk oleh hukum restitutif, di
mana seseorang yang melanggar harus melakukan restitusi untuk kejahatan mereka.
Pelanggaran dilihat sebagai serangan terhadap individu tertentu atau sekmen tertentu
dari masyarakat, bukan terhadap sistem moral itu sendiri. Dalam hal ini, kurangnya
moral kebanyakan orang tidak melakukan reaksi secara emosional terhadap
pelanggaran hukum. Oleh karena itu Durkheim berpendapat bahwa dalam
masyarakat modern bentuk solidaritas moralnya mengalami perubahan, dan
bukannya hilang. Dalam masyarakat terdapat perkembangan kemandirian sebagai
akibat dari perkembangan pembagian kerja yang menimbulkan kesadaran-kesadaran
individual yang lebih mandiri. Akan tetapi secara bersamaan sekaligus sifat
kemandirian ini menjadi semakin tergantung antara satu sama lainnya, karena
masing-masing individu hanya merupakan satu bagian saja dari suatu pembagian
pekerjaan sosial.
 

Pentingnya membangun solidaritas sosial karena manusia merupakan makhluk sosial
yang berarti tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan bantuan dari orang lain.
Manusia akan hidup berkelompok dalam masyarakat baik itu dalam kelompok kecil
maupun kelompok besar dan tidak akan hidup sendirian.Rasa solidaritas atau
kebersamaan ini akan muncul dengan sendirinya saat manusia satu dengan yang lain
memiliki kesamaan dalam beberapa hal. Dengan adanya solidaritas maka kita dapat
bersatu dan mewujudkan sesuatu bersama-sama.Salah satu contoh penerapan rasa
solidaritas dalam kehidupan sehari-hari yaitu gotong royong, seperti kerja bakti
lingkungan, kerja kelompok menyelesaikan tugas, dan keikutsertaan dalam acara
kedaerahan ditempat tinggalnya. Secara ringkas, solidaritas dapat diartikan sebagai
rasa kebersamaan, rasa kesatuan kepentingan, rasa simpati, sebagai ungkapan
kesetiakawanan untuk mencapai kepentingan bersama. Oleh karena itu solidaritas
sosial dapat didefinisikan kesetiakawanan dalam hubungan kelompok berdasarkan
ikatan rasa saling percaya, rasa sepenanggungan, kesamaan tujuan dan cita-cita
bersama (http://www.pelajaran.co.id/2017/15/pengertian-solidaritas- jenis-manfaattujuan-dan-faktor-yang-mempengaruhi-solidaritas.html)
 

Berkaitan dengan pengertian solidaritas sebagai rasa kebersamaan, rasa kesatuan
kepentingan, maka Durkhein memilih studi bunuh diri (Suicide) karena persoalan ini
relatif merupakan fenomena konkrit dan spesifik, di mana tersedia data yang bagus
cara komparatif. Akan tetapi, alasan utama Durkheim untuk melakukan studi bunuh
diri ini adalah untuk menunjukkan kekuatan disiplin Sosiologi. Dia melakukan
penelitian tentang angka bunuh diri di beberapa negara di Eropa. Secara statistik
hasil dari data-data yang dikumpulkannya menunjukkan kesimpulan bahwa gejalagejala psikologis sebenarnya tidak berpengaruh terhadap kecenderungan untuk
melakukan bunuh diri. Menurut Durkheim peristiwa-peristiwa bunuh diri sebenarnya
merupakan kenyataan-kenyataan sosial tersendiri yang karena itu dapat dijadikan
sarana penelitian dengan menghubungkannya terhadap sturktur sosial dan derajat
integrasi sosial dari suatu kehidupan masyarakat. Memnurut data hasil penelitian
Durkheim aspek bunuh diri dalam kesatuan keluarga, disimpulkan bahwa semakin
kecil jumlah anggota dari suatu keluarga, maka akan semakin kecil pula keinginan
untuk hidup. Kesatuan sosial yang semakin besar, mengikat orang pada kegiatankegiatan sosial di antara anggota-anggota kesatuan tersebut.
 

Demikian juga dari aspek kesatuan politik, bahwa di dalam situasi perang, golongan
militer lebih terintegrasi dengan baik, dibandingkan dalam keadaan damai.
Disimpulkan bahwa angka bunuh diri ternyata lebih kecil pada masa revolusi atau
pergolakan politik, dibandingkan dengan dalam masa tidak terjadi pergolakan politik.
 

Sedangkan dari tipe bunuh diri yang disebabkan oleh sifat egoistis manusia,
Durkheim menjelaskan bahwa ditemukan dalam masyarakat atau kelompok di mana
individu tidak berinteraksi dengan baik dalam unit sosial yang luas. Lemahnya
integrasi ini melahirkan perasaan bahwa individu bukan bagian dari masyarakat, dan
masyarakat bukan pula bagian dari individu. Lemahnya integrasi sosial melahirkan
arus sosial yang khas, dan arus tersebut melahirkan perbedaan angka bunuh diri.
Misalnya pada masyarakat yang disintegrasi akan melahirkan arus depresi dan
kekecewaan. Kekecewaan yang melahirkan situasi politik didominasi oleh perasaan
kesia-siaan, moralitas dilihat sebagai pilihan individu, dan pandangan hidup
masyarakat luas menekan ketidakbermaknaan hidup, begitu sebaliknya. 


Durkheim (1997) menyatakan bahwa ada faktor paksaan sosial dalam diri individu untuk
melakukan bunuh diri, di mana individu menganggap bunuh diri adalah jalan lepas
dari paksaan sosial. Dalam kajian dalam teori solidaritas, Durkheim menerangkan
bahwa masyarakat modern tidak diikat oleh kesamaan antara orang-orang yang
melakukan pekerjaaan yang sama, akan tetapi pembagian kerjalah yang mengikat
masyarakat dengan memaksa mereka agar tergantung satu sama lain. solidaritas
menunjuk pada suatu keadaan hubungan antara individu dan / atau kelompok yang
didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang
diperkuat oleh pengalaman emosional bersama.
 

Dengan demikian secara ringkas, solidaritas dapat diartikan sebgai rasa
kebersamaan, rasa kesatuan kepentingan, rasa simpati, sebagai ungkapan
kesetiakawanan untuk mencapai kepentingan bersama. Rasa solidaritas sosial
mendorong lahirnya ikatan sosial dalam bentuk kegiatan-kegiatan bersama dalam
kehidupan masyarakat. Setiap individu meskipun individualis pada dasarnya
menghendaki kehidupan yang damai dan tenteram, dan individu sendiri tak mungkin
dapat memenuhi kepentingan hidupnya dengan seorang diri. Oleh karena itu individu
mau tak mauharus mengadakan hubungan dengan individu-individu lain, baik
bersifat kontrak sosial ekonomis maupun bersifat humanistik alamiah sebagai makhluk sosial. Atas dasar pengertian ini, maka dapat dirumuskan bahwa solidaritas sosial
merupakan kesetiakawanan sosial berdasarkan ikatan rasa saling percaya, rasa
senasib sepenanggungan, kesamaan tujuan dan cita-cita bersama dalam hubungan
masyarakat.


Tujuan utama solidaritas sosial, antara lain adalah:


1) Terjaganya rasa persaudaraan dan pertemanan terhadap sesama;
2) Munculnya rasa keperdulian terhadap sesama baik teman, keluarga atau orang
lain;
3) Lebih peka terhadap lingkungan sekitar;
4) Terjalinnya kekompakan terhadap teman;
5) Membangun rasa kesetiakawanan.
 

Sedangkan kegunaan solidaritas sosial adalah untuk memperkuat atau meningkatkan
rasa saling tolong menolong antar sesama, memupuk rasa saling percaya, rasa
sepenanggungan dan membangun rasa peduli terkadap sesama anggota masyarakat.
Dengan solidaritas sosial berarti menunjukan pentingnya rasa kesetiakawanan antar
anggota masyarakat dalam kehidupan bersama, dimana ikatan hubungan
persaudaraan dan kekeluargaan dapat terpelihara dengan baik. Oleh karena itu, dalam
hidup bersama dan dalam bekerjasama sudah seharusnya membangun rasa
solidaritas sosial agar dapat mempermudah mencapai tujuan dan cita-cita bersama.
Dengan menerapkan prinsip solidaritas sosial, di mana di dalam hubungan kerjasama
untuk mencapai kepentingan bersama berjalan dengan ikatan rasa kesetiaan, rasa
senasib sepenanggungan, salimg percaya, saling peduli dan saling menolong, maka
akan tercipta kerukunan, kedamaian, ketenteraman, keamanan dan persatuan
kelompok yang kuat, serta terhindar dari ancaman konflik. Dalam kondisi kehidupan
masyarakat yang kondusif, tentu dapat memberi peluang atau kesempatan luas untuk
berkarya, berinovasi, menggali potensi dan meningkatkan sumber daya dalam
menunjang kemudahan kerjasama dalam mencapai kepentngan bersama.
 

Dalam rangka pembangunan masyarakat, upaya meningkatkan taraf hidup menjadi
masyarakat yang sejahtera secara sosial dan ekonomi, maka para agen pembangunan
harus mampu menerapkan teknologi sosial dengan menanamkan semangat jiwa
solidaritas sosial dalam kehidupan masyarakat. Dengan peningkatan kapasitas
sumber daya yang ada, baik berupa fasilitas kerja, maupun sumber daya manusia,
dan didukung oleh prinsip solidaritas yang tinggi, maka kelompok usaha bersama
tertentu dapat mempermudah dan mempercepat pencapaian tujuannya. Dengan
memahmi, menjiwai, berkepentingan sebagai panggilan moral, dan mampu
mengimplementasikan perilaku solidaritas sosial dalam kehidupan masyarakat, maka
dapat mendorong perubahan masyarakat menjadi lebih percaya diri, mandiri, kreatif,
terampil, mampu menggali SDA dan SDM, dan siap kerja keras untuk berusaha
mencapai kesejahteraan bersama, dengan tidak tergantung dengan uluran tangan
pemerintah.