Sabtu, 14 Mei 2016

MASYARAKAT MAJEMUK (PLURAL SOCIETY)

MASYARAKAT MAJEMUK
(PLURAL SOCIETY)
Oleh: Abdul Syani

A.  DASAR TEORI
Indonesia merupakan negara yang memiliki struktur masyarakat dengan ciri pluralitas  yg tinggi.  J.S Furnival: pada masa Hindia Belanda masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk, yaitu: suatu masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri di dalam satu kesatuan politik.

Di dalam kehidupan politik masyarakat Indonesia bersifat majemuk, penguasa dan yang dikuasai memiliki perbedaan ras.
Cliforts Geerts: masyarakat majemuk adalah masyarakat yang terbagi-bagi dalam sub-sub sistem yangg kurang lebih  berdiri sendiri. Dimana masing-masing  subsistem terikat ke dalam ikatan-ikatan yang bersifat primordial.

Piere L.Van den Bergher: beberapa ciri masyarakat majemuk, yaitu:
Terjadinya segmentasi ke dalam bentuk kelompok-kelompok yang seringkali memiliki sub kebudayaan yg berbeda satu sama lain.
Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat non-complementer
Kurang mengembangkan consensus diantara para anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar
Secara relatif seringkali mengalami konflik-konflik di antara kelompok satu denang kelompok lainnya
Secara relative integrasi sosial tumbuh diatas paksaan dan saling ketergantungan di dalam bidang ekonomi
Adanya dominasi suatu kelompok atas kelompok-kelompok  lain.

Max Weber: Masayrakat majemuk (pluralistik): masyarakat  yang  terdiri dari  kelompok-kelompok, sub kelompok yang  berbeda satu sama lainnya.  Ada 3 macam keteraturan yang dapat mengikat orang dengan sesamanya menjadi satu, yaitu: ekonomi (tatanan ekonomi), politik (tatanan politik), dan kebudayaan (tatanan budaya).

Masing-masing tatanan mempengaruhi perilaku  manusia dengan hasil  yang tidak sama untuk semua orang, bisa terpengaruh, kurang  atau tidak terpengaruh sama sekali.   Contoh: dalam tatanan ekonomi tumbuhnya institusi dan kebiasaan bahwa dalam kehidupan pasar yang penting pemilikan uang, siapapun pembeli, bangsawan, gembel, tak peduli, yang penting siapa yang punya uang, ia berhak memperoleh barang.

Masyarakat terbentuk banyak kelompok/institusi sosial yang masing-masing dalam bersikap dan bertindak selalu berusaha mempengaruhi orang lain. Dalam situasi tertentu dapat menimbulkan konflik antara masing-masing institusi sosial. Jadi masyarakat majemuk cenderung rentan konflik.

Dalam masyarakat majemuk, terdapat  macam assosiasi (perkumpulan) yang bersifat indipenden/berdiri sendiri, atau bebas dari pengaruh/ketergantungan dengan assosiasi lain, misal: assosiasi Agama, Budaya, Profesi, Ekonomi, Politik, Advokad, dan lain-lain.

B.  KONSEP MASYARAKAT MULTIKULTURAL

Berbagai konsep yang relevan dengan multikulturalisme antara lain: demokrasi, keadilan dan  hukum, nilai-nilai budaya dan  etos, kebersamaan dalam perbedaan yang sederajat, kesukubangsaan, kebudayaan sukubangsa, keyakinan keagamaan, ungkapan-ungkapan budaya, domain privat dan publik, HAM, hak budaya komuniti, dan konsep-konsep lain yang relevan. Masyarakat multikulturalisme adalah sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun kebudayaan.

Masyarakat majemuk dapat dipahami sebagai masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok dan strata sosial, ekonomi, suku, bahasa, budaya dan agama.  Di dalam masyarakat majemuk, setiap orang dapat bergabung dengan kelompok lain tanpa rintangan sistemik yang dapat mengakibatkan terhalangnya hak untuk bergabung dengan kelompok tertentu.

Masyarakat majemuk (Indonesia) diperjuangkan untuk menjadi masyarakat multikultural, karena dalam masyarakat multikultural, hak-hak untuk berbeda diakui dan dihargai.

Upaya penyebarluasan, pemantapan dan penerapan ideologi multikulturalisme dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, maka harus bersama-sama dalam penyebaran dan pemantapan ideologi demokrasi dalam porsi yang seimbang. Sehingga setiap orang Indoensia mempunyai kesadaran tanggungjawab tidak berlaku sewenang-wenang terhadap orang, kelompok dan  golongan lain.

Pluralitas bermakna positif jika interaksi dan relasi saling percaya antara sesama (social-trust). Ini prasyarat terciptanya masyarakat yang beradab dan bermartabat, yaitu: masyarakat yang memiliki moral, akhlak, etika, budi luhur, santun, sabar dan arif, menghormati hak asasi, menghormati diri sendiri, orang lain, bangsa sendiri, bangsa lain, suku/kelompok sendiri dan suku/kelompok lain.

Menghormati pluralitas harus sejalan dengan menghormati peradaban dan martabat. Tidak ada artinya pluralitas jika  mempertahankan budaya primitif, keterbelakangan dan perbedaan dengan alasan kemurnian budaya lokal atau hak asasi tanpa mepertimbangkan hak manusia dalam sistem kehidupan bersama.

Karakteristik Pluralitas
watak majemuk secara sosio-kultural aslinya. Masyarakat Indonesia terdiri suku-suku bangsa dengan cara hidup bermasyarakat dan berbudaya, adat istiadat dan 300 lebih dialek lokal, hidup di atas ±17 ribu pulau.
watak sosio-politik dan kekuasaan. Setelah era proklamasi bangsa ini mencitrakan diri sebagai bangsa majemuk untuk mengisi kemerdekaan dengan mengikuti cara-cara demokrasi politik liberalisme Barat. Di sini dimulai pengaruh kultur politik kosmo-globalisme. Dengan demikian, maka niat monolitik, berubah menjadi multi partai. Pluralitas politik dihalalkan, dengan harapan tidak asal berdiri, melainkan turut memperjuangkan kepentingan rakyat banyak yaitu mempertahankan kemerdekaan dan memperjuangkan keamanan rakyat (Deliar Noer, 1990:284-289).
Watak pluralitas agama secara sosiologis. Dalam rentang waktu, watak pluralitas agama tidak terkait secara langsung dengan reformasi politik jatuhnya Soeharto 21 Mei 1998.

Watak Orde Baru: selalu merujuk kepada kestabilan pembangunan sehingga melahirkan trilogi pembangunan yang disebut: stabilitas keamanan; pertumbuhan ekonomi dan; pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, maka setiap gejala intrik suku, agama dan hubungan antara golongan (SARA) yang bersifat primordialistik, selalu ditekan.
Khusus hubungan antar agama, pemerintah mempunyai rambu tri-kerukunan antar pemeluk agama, yaitu: kerukunan hidup internal umat beragama; kerukunan hidup antara umat berlainan (eksternal) agama; dan kerukunan hidup pemeluk dan organisasi agama denganpemerintah.
Catatan: Pluralisme agama dapat membawa pengertian agama itu sama, sehingga dapat membahayakan akidah suatu agama.

C.  DEFINISI MASYARAKAT MAJEMUK:

Masyarakat disbt majemuk, jika memenuhi 1 dari 2 definisi berikut ini:
Masyarakat terdiri dari komunitas etnik berbeda-beda, komunitas etnik  hidup terpisah-pisah, dan masing-masing memiliki moralitasnya sendiri.
Masyarakat hidup di dalam satu komunitas yang sama, namun dipisahkan satu sama lain oleh pasar. Pada titik ini ada 2 kemugkinan kehidupan sosial, yaitu: terciptanya semacam moralitas bersama yang mendorong hidup bersama secara harmonis, atau justru menciptakan relasi dominatif antara kelompok kuat terhadap kelompok lemah, di mana relasi dominatif  sebagai pengikat kehidupan bersama.

M.G Smith [1965]: Masyarakat majemuk ditandai beragamnya perangkat aturan nilai yang digunakan untuk menata kehidupan sosial manusia, dan masing-masing aturan nilai bersifat total bagi orang-orang yang berada di dalam kultur tertentu. Tidak ada sabuk pengikat kehidupan bersama, bahkan menurut Smith, masyarakat majemuk justru diikat oleh adanya dominasi kelompok yang satu atas kelompok yang lain. Jadi elemen yang mengikat masyarakat majemuk untuk tetap eksis sebagai masyarakat adalah dominasi.

Masyarakat multikultur ideal: jika kelompok-kelompok sosial yang berbeda memiliki kekuatan politik yang setara, yaitu: setara dalam bentuk partisipasi, baik dalam kehidupan-kehidupan publik, maupun dalam proses-proses pembuatan keputusan yang terkait dengan kepentingan bersama.

Kultur minoritas harus belajar dari kultur mayoritas, sebaliknya kultur mayoritas tetap juga harus belajar dari kultur minoritas. Proses ini akan mendorong terciptanya penghormatan terhadap kesetaraan kultur di dalam masyarakat majemuk.

Salah satu bidang yang memiliki dampak besar bagi kehidupan bersama adalah bidang ekonomi. Artinya, bidang ekonomi harus memiliki seperangkat aturan moral yang dapat ditata demi kepentingan publik.

Kendati demikian tujuan-tujuan politis selalu melahirkan konflik karena besarnya intensitas kepentingan dan hak-hak individu/kelompok, alasan perbedaan etnis.

T. Marshall: bahwa dalam masyarakat multikultur, negara tidak hanya memenuhi hak-hak politik maupun hak-hak legal rakyatnya, tetapi juga hak sosial maupun kultural warganya.  Harapannya: dengan diperhatikan hak-hak sosial maupun kulturalnya, maka warga dapat memahami bahwa kepentingan bersama lebih penting daripada kepentingan kelas sosial atau golongan.

Orang-orang dari kultur dominan hidup harmonis sebagai bagian dari sistem sosial secara keseluruhan. Sedangkan anggota masyarakat dari kultur minoritas mereka merupakan bagian dari sistem sosial lain yang berbeda; seolah mereka berasal dari kebudayaan yang dominan di dalam masyarakat.

Secara umum masyarakat majemuk dapat didefinisikan sebagai suatu masyarakat yang terdiri dari atas banyak suku bangsa, kebudayaan, asal usul, ras, cara hidup, tingkat ekonomi, status sosial dan sikap politik, tanpa pembauran satu sama lain.
Yang  terpenting kondisi majemuk  perlu  pemeliharaan  terhadap sentimen dan keangkuhan assosiasi intern agar tidak  berlebihan, merasa lebih tinggi atau lebih rendah keberdayaannya dari assosiasi yang lain.

Kenyataannya sering konflik antara assosiasi yang berbeda misi visinya. contoh: ada anggapan bahwa profesi Dokter lebih baik daripada  sarjana ABI. Mengapa? Karena interpretasi masyarakat menganggap bahwa kesejahteraan dan masa depan Dokter lebih baik  daripada sarjana ABI.
Ditinjau dari struktur masyarakat secara horizontal: kenyataan menunjukkan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, etnik, perbedaan agama, perbedaan adat istiadat, perbedaan kedaerahan.

Sedangkan secara vertikal adanya perbedaan-perbedaan antara lapisan atas dan lapisan bawah cukup tajam.  Melihat kondisi ini, hal diatas ini juga dapat merupakan sumber konflik.

Berdasarkan kenyataan tersebut, maka melahirkan dua teori yaitu teori konsensus dan teori konflik.
Masyarakat model konsensus:
Norma dan nilai sbg elemen-elemen dasar dalam kehidupan sosial
Konsekuensi kehidupan sosial adalah komitmen
Masyarakat kompak
Kehidupan sosial tergantung pada solidaritas
Kehidupan sosial didasarkan pada kerja sama dan saling
      memperhatikan/saling membutuhkan
Sistem sosial tergabung pada konsensus
Masyarakat mengakui adanya otoritas yang sah
Sistem sosial bersifat integratif
Sistem sosial cenderung bertahan

Masyarkat model konflik:
Kepentingan merupakan elemen dasar dlm kehidupan sosial
Konsekuensi kehidupan sosial adalah paksaan
Kehidupan sosial terpecah belah
Kehidupan sosial menghasilkan oposisi, perpecahan, dan permusuhan
Kehidupan sosial menghasilkan konflik yang berstruktur
Kehidupan sosial menghasilkan kepentingan yang sudah dikotak-kotakkan
Diferensiasi sosial menghasilkan kekuasaan
Sistem sosial merusak integrasi dan padat kontradiksi
Sistem sosial cenderung berubah

D.  MASYARAKAT MAJEMUK INDONESIA

Indonesia ditinjau dari berbagai aspek merupakan sebuah bangsa yang majemuk. Kemajemukan ini tampak dalam wujud etnis dan budaya Indonesia yang beragam, seperti etnis dan budaya Jawa, Madura, Lampung, Sunda, Batak, Padang, Toraja, Bugis, Dayak, Banjar, Betawi, dan sebagainya. Contoh khusus: kemajemukan sikap politik dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang nampak dalam bentuk partai-partia politik yang bervariasi.

Keanekaragaman kultur (multikultur) Masyarakat multikultur: terdiri dari aneka pelapisan sosial dan budaya yang berbeda  satu sama lain. Slogan Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu) bersifat filosofis-politis, sebagai unsur pemersatu atas perbedaan-perbedaan tersebut. Agar tidak mudah terpecan belah.  Bhikhu Parekh (2008): keanekaragaman kultur ini dapat dibedakan menjadi 3 yaitu : 1) Keanekaragaman Subkultural, 2) Keanekaragaman Perspektif, dan 3) Keanekaragaman Komunal.

Keanekaragaman Subkultural: suatu kondisi di mana  anggota masyarakat menganut satu kebudayaan umum yang luas, di antara mereka menjalankan keyakinan dan praktek berbeda berkenaan dengan wilayah kehidupan tertentu atau menempuh cara hidup mereka sendiri yang relatif berbeda. Contoh: kelompok-kelompok miskin urban punk, kaum waria, gay, lesbian, dan kelompok-kelompok menyimpang, seperti komunitas Lia Eden, dan kelompok-kelompok sempalan agama lainnya.

Budaya-budaya Punk, kaum urban miskin kota, penduduk wilayah perbatasan, kelompok-kelompok buruh, kemudian membangun sistem nilai dan cara hidup sendiri yang kemungkinan berbeda dengan  masyarakat Indonesia secara umum. Tapi walau berbeda, mereka masih mengakui aturan dan sistem hukum yang berlaku.
Keanekaragaman Perspektif: suatu kondisi di mana beberapa anggota masyarakat sangat kritis terhadap beberapa prinsip atau nilai-nilai sentral di sepanjang garis kelompok yang sesuai.  Contoh: Gerakan-gerakan Feminis dan emansipasi perempuan, isu-isu pembentukan masyarakat madani di Indonesia, isu-isu pembentukan Negara Islam atau Negara Pancasila, dan sebagainya.  Keanekaragaman Komunal: suatu kondisi di mana sebagian besar masyarakat dari beberapa komunitas yang sadar diri dan terorganisasi. Mereka menjalankan hidup deng sistem keyakinan dan praktek yang berlain satu kelompok dengan lainnya.  Contoh: kawasan-kawasan Pecinan (hunian komunitas Cina), wilayah-wilayah yang dihuni suku-suku bangsa di luar wilayahnya (komunitas Batak di Jakarta, Bandung, Lampung dan lain-lain).

Multikulturalisme di Indonesia: lebih kompleks dari sekedar aspek etnis, karena ternyata etnis di Indonesia telah banyak mengalami perubahan makna.  Contoh: William orang Lampung menikah dengan Tini dari Jawa. William relatif mudah mengidentifikasi diri sebagai orang Lampung. Demikian pula Tini, relatif mudah mengidentifikasi diri sebagai orang Jawa. Namun, bagaimana dengan anak-anak mereka? mengidentifikasi diri sebagai orang Lampung, orang Jawa, ataukah orang baru alias Japung, Pujakesuma atau anak Indonesia atau mengidentifikasi diri sebagai orang setengah Lampung dan setengah Jawa.  Demikian  juga aneka budaya baru, perkembangan teknologi, industrialisasi, dan percampuran penduduk membuat kategorisasi keragaman semakin luas sebagai kajian sistem sosial dan budaya Indonesia. T

Kamis, 12 Mei 2016

SASTRA LISAN LAMPUNG: RINGGET



RINGGET

Ringget adalah salah satu bentuk sastra lisan Lampung yang sering dipergunakan dalam upacara pelepasan mempelai wanita,  pengantar musyawarah  adat,  atau pelengkap acara  cangget.  Isinya  secara  umum berupa kenangan masa lalu, harapan, atau pesan-pesan kehidu­pan.  Jika  ringget digunakan dalam  upacara  pelepasan  mempelai wanita, pengungkapannya dilakukan sesaat sebelum keberangkatan.


Contoh Ringget: Peradu Muli Kanjeng Ibu Merittah - BUMIAGUNG (Bukukjadi)
di-ibal ulun anjak Kutobumi Ilir-PINENG NGERABUNG SANGGAR
Tanggal, 16 November 1978

1.    Parib sikam segala                                    Maaf saya sampaikan            
       Dikuti segeri umpu                                   Kepada semua cucu              
       Kemaman tanjar Bapak                            Bapak bersama Paman            
       Kelepah serta mehani                               Saudara laki-laki dan perempuan                      
                                                           
       Jemelek munih kelama                             Termasuk semua kelamo          
       Sappunan rumpun lebu                            Demikian pula dengan lebu      
       Bapakku passi Lima                                Semua bapak dalam paksi lima   
       Laju dibidang suku                                  Terus semua yang patut di kampung                     

2.    Panas kebian sina                                     Pada hari ini      
       Nyak diitarko segala kuti                         Saya diantarkan/dilepas semua orang kampung        
       Tujuan siwa miga                                     Menuju kebuaiyan Abung Siwo Migo   
       Unyai suro menanti                                  tepatnya buwai Unyai               

       Lapahku nunjul berita                              Perjalanan saya jadi bahan berita    
       Kejureman kelama lebu                           Atas persetujuan kelamo dan lebew    
       Bindangan kak nyehaja                            mufakat yang pasti                   
       Nyak mittar anjak titi                               Saya jalan sesuai dengan aturan/kebiasaan)                    

3.    Lamun Kinandi gila                                  Lamunan ini pilihan/niat saya   
       Mak kung tigoh dipepadu                        Belum sampai difikir secara dalam
       Sedokku mak sepira                               Pengetahuan saya belum berarti  
       Nyak dilom pihaman kuti                        Saya masih dalam perhatian semua

       Anying ana cita-cita                                 Kalaupun ini cita-cita/jadi permohonan      
       Sanak haruk nyundang laku                     Anak yatim membuat/bersikap           
       Api cawa sai tuha                                    Apa yang dikatakan para orang tua
       Kak sina pedoman hati                            itulah pedoman hati

4.    Ki ngitung rita-rita                                   Andaikan cita-ciata/harapan    
       Tala sayup kerungu                                 Suara tabuhan sayup terdengar  
       Anying rasaku bangga                             Perasaan saya menjadi bangga   
       Ya hina dandan kuwari                            Karena itu memang kebiasaan kita

5.    Kususun jari lima                                     Saya tutup muka dengan  telapak tangan      
       Nyak appun tikkah laku                           Saya mohon ampun atas perilaku                       
       Ya sanak laju sai tuha                              Dari anak sampai tua
       Sambut ucap pesiri                                  Terimalah ucapan dan perasaan hati ini                       

      
       Nyak mahap nglaim pura                         Saya mohon maaf kepad sumuanya  
       Ngapura sambut pungu                            Terimalah tangan saya/mohon  maaf saya   
       Jak timbai sappai gatta                             Dari dulu sampai sekarang
       Kattu wak teselok dihati                          Kiranya ada perasaan dihati       
                                                                            

6.    Ana kutting ngissi perada                                     Itu tanda perasaan saya secara 
       Sang lambung pupasang tippu adat/agama            Dari hati saya yang sangat dalam             
       Pak likor rial nyata                                               Dua puluh empat rial nyata
       Teninggalku dikuti                                               Telah saya serahkan       
                                          

       Kerbau kerai ana ya                                 Kerbau besar itu tandanya 
       Tali cindai jikkau pitu                                Cindai pengikatnya tujuh  
       Tenambang di kaju ara                              langkah panjangnya terikat di kayu ara      
       Pemakai kuti passi                                    Pakaian semua paksi   
                                                                                

7.    Ki dulah segala pusaka                            Semua pusaka              
       Penyapuk bidang suku                             Pegangan semua suku       
       Anjung tatah perada                                Ruang berhias perada/emas 
       Serta tabuh gegili                                     Serta bunyi (suara tabuhan)

       Pengejuk kak kuterima                             Pemberian telah saya terima
       Ya jadi anggunanku                                  Akan menjadi pegangan hidup
       Hangguk mak semarana                           Senangnya bukan kepalang   
       Tanda tunjang Bukujadi                            Sebagai simbol dari Bukujadi

8.    Rena munih perbia                                    Begitulah/demikian pula perlengkapan
       Tumpak kabet dipenaku                           Disimpan diatas loteng                     
       Keragoman ram secita                              Kebiasaan kita semua
       Lamun mak jadi hati                                 Jangan menjadi sesalan/perkataan                 
                               

       Sejjar wat dinah mata                               Sekadar dilihat mata/menjadi kenangan   
       Yana jadi  kelippu                                     Itu jadi pegangan    
       Guwai seranja nata                                   Karena buatan pendahulu
       Petigohanku dudi natti                              Setelah saya sampai tujuan
                              
 9.    Payung sai di kayu ara                             Payung yang tertancap di kayu aro 
       Jadi ko jejang katahu                                Jadikan sumber inspirasi          
Jukko di bidang miga                                Serahkan dengan semua marga       
       Jemelok sai ngatteni gawi                          Karena mereka yang memeriahkan acara                             

       Yana gila amalan tuha                                Itu adalah kebiasaan lama        
       Angguan goh keluhu                                  Seperti mengucapkan surat al-ihlas
       Jadi petanda citta                                     Pemantapan jiwa                  
       Bidang jaman ram kuwari                         Setiap waktu kita berbuat/melaksanakan acara      
                                                                       peminangan/adat

10. Kerabat meranai sudara                            Seluruh keluarga besar        
       Kuti muli puariku                                     Khususnya para bujang dan gadis
       Liwak ram kebian sina                             Berpisah kita mulai sekarang  
       Wattu tunggu induh wacci                        Entah kapan kita dapat berjumpa

       Salamku jari lima                                      Selamat tinggal saudara   
       Teda ko ram semehayu                            Ingatlah kita di pagi hari
       Nyak appun sekalian dusa                       Saya mohon ampun semua dosa
       Dang nyamok dilom hati                          Jangan menyimpan dendam   

11. Ragom kuti  nyehaja                                 Ramai kita bergembira sambil bekerja
       Angkat junjung didiriku                            Bekerja bergotong royong untuk diri saya               
       Jak pilangan tigoh di rata                         Dari cangget pilangan (persiapan sampai selesai)
       Mandi kesudan munih diattoni                  Sampai-sampai mandipun saya ditemani                   
                                        
Sakai kuti mak lupa                                  Bantuan anda tidak akan saya lupakan                  
       Kucatat dilom kalbu                                 Selalu saya catat di dalam hati                  
       Sembayan harop neda                              Kerelaan hati anda telah jelas
       Ki-kak wattu ngekali                                Mudah-mudahan saya dapat membalas                
                                     
12. Betik munih dibitta                                     Baik juga diingatan             
       Ana nagau tebuku                                    Itu ada tanda terima kasih saya     
       Kerbau sai arung kelama                          Seekor kerbau untuk kalian          
       Keris sai aguk mehani                              Keris/puduk untuk saudara laki-laki                      
  
       Seperakkat kawai tuha                             Seperangkat pakaian kebesaran
       Ya cawa arung lebu                                  Disampaikan kepada lebbu    
       Sinjang cucuk serba                                 Sarung bagus serba indah    
       Upah tuha aguk Mami                              Kuserahkan sebagai tanda terimakasih kepada ibu      

13. Keris sai ana ya                                        Keris yang ada disana
       Paruan urang kubu                                   Penggunanya orang kubu
       Ingunan kambas yana                              Peliharaan semua kita
       Aguk kemaman sai tebunyi                      Untuk paman yang setia

       Patut jadi serana                                      Wajib jadi alat            
       Tutuk munih penganggu                            Termasuk yang harus pelihara
       Tepakai unggal masa                                Karena dipakai/digunakan   
       Petindan balin titi                                      sepanjang masa Tandanya silih berganti    

 14. Muli meranai mak lupa                              Bujang gadis jangan lupa         
       Kerbau sai halom bulu                              Kerbau yang hitam bulunya        
       Tukkah raccing setangga                           Tanduk runcing dan setangkai bunga
       Kelekir ni gelang ghuwi                             Buhulnya gelang duri             
      

       Pengubangan ni talam salaka                     Pembasuhnya talam suasa      
       Tali ni cindai ungu                                     Tali cindai berwarna ungu    
       Penambangan linggis tuha                          Tempat pengikat linggis pusaka
       Warisan Bukukjadi                                   Warisan Bukukjadi            

15. Pemuluan sapa nerima                              Penggantian siapa yang menerima
       Baju sai, sulang lakbu                              Baju yang dibuat sengaja      
       Kepiah sinjang tuha                                 Songkok dan sarung tua/pusaka 
       Aguk bapak patudan jadi                         Diterimakan dengan ayah sebagai tanda jadi            
   
       Nyak ridu ulahku di-ya                            Saya bingung bagaimana caranya
       Lamun mak jadi semu                              Bila tak jadi, sayang......  
       Dandan kuti jadi pah'la                            Kerjaan semua jadi pahala    
       Sai nerima yak kak kari                            Yang menerima sudah ada      

16. Kutengok munih dirasa                             Saya juga menimbang rasa     
       Kuti penuha penglaku                              Semuanya sudah lanjut usia   
       Tigoh d'ngicilko duara                              Sampai merapihkan kain maduara
       Anjak di ngatur gawi                               Dari menata gawi             

       Susah payah kuterima                              Susah payah saya mengerti    
       Anying apa dayaku                                  Namun apa daya               
       Ana belacu nom ila                                  Itu ada kain putih enam meter
       Tanda mak rusak tuwi                              Tanda saya ingat/memperhatikan

17. Telesan ginggang tuha                                Kain basahan sudah lama digunakan  
       Akkit kuti adikku                                     Ambillah adik-adikku               
       Amani rik soeraya                                    Amani dan Soraya (dua orang adiknya)
       Jamukko dilom peti                                  Simpanlah didalam peti             

       Mandi kesudan kas berita                        Tempat mandi hanya tinggal berita
       Guna jadi pengganggu                              Gunakan dengan baik              
       Sina teladan suri pecitta                            Itu adalah suri teladan          
       Mak lucuk ngakang tali                            Tidak akan rusak/putus bila diikat

18. Punggawa Jeragan saka                             Panglima memang ikutan sejak dulu
       Galung-gabai mak lekot talu                      Memang menjadi pujaan           
       Nguta anggar Beraja Nata                         Pagar diri si Braja nata (nama Nguta anggar 
                                                                       Beraja Nata   pahlawan)                       
       Mak kicom ki ulah bani                            Tidak perlu takut kalau benar   
   
       Ngemulan Batin nyusun bicara                 Ngemulan batin (nama orang) menata bicara 
       Alah tappang, kacak ketahu                     Paras baik, bicara pandai              
       Anggar tepaccun jadi ketara                    Tiang dipotong jelas tampaknya
       Bedani wawai uri                                     Perdamaian baik urusannya    

19. Ngepang bunga jenaga                             Menjaga bunga mekar               
       Tukuh biring tebuan kelabu                      Dari isapan madu kumbang/tawon    
       Singa Dawan cecom kemala                    Singa dawan siap berjaga           
       Sai nyamukko tetung taji                         Karena ia menyembuyikan taji      
                                                                
       Unggal jaman senabung juga                   Setiap waktu selalu diadu         
       Ceca ni sangun radu                                Namanya sudah disediakan          
       Alah bupadan, Ubas kelana                     Kalah berunding, baru terpikirkan        
       Besapon di paccung gawi                        Bersiap di ujung gawi             
                                                                 
20. Semampi bunyi tala                                  Sayup sayup suara talo (gong besar)            
       Gusar nyalubung hatiku                           Was-was persaan hati    
       Sesok napas nyusor dada                        Sesak napas di dada
       Irai luk ku mehili                                      Tersendat darahku mengalir mengingat                         
                                                                
       Mama-Duli-Maharaja                             Ibu, kakak perempuan, laki-laki (panggilan) 
       Datuk perdana umpuku                           Datuk perdana (nama orang) cucuku             
       Lepaskan nyak iringi du'a                        Lepaskan (berangkatkan) saya dengan iringan do'a
       Tuah rawan k'kalau tebiti                         Semoga saya berbahagia atas petunjuknya 

21. Ratu passi sambungan nyawa                   Ratu paksi penerus generasi
                                                                     Nama keponakan penyimbang  
                                                                      (tutur/panggilan) pada istri
       Kanjeng sumbahan tumpuanku                Kanjeng sembahan harapanku 
       Wattu suku tigoh getika                           Waktu suku sampai disini
       Rila ko nyak balin titi                               Relakan saya beralih cara            
                               
                                 

       Ki ngitung mak pisah rasa                        Walaupun tidak ada perasaan berpisah
       Tedos haruk, nakenku                              Tegar yatim, keponakanku                     
       Ujian segala gippa                                    Itu semua adalah ujian
       Ulohku di Maha Suci                               Kembalikan kepada allah yang suci      

22. Umi junjungan rik mama                           Ibu (keminan dari ibu) dan mak
       Unyin kemaman samapi umpu                  Semua paman dan cucu         
       Makwanku Ratu lama                              Ibu (keminan dari ayah) juluk Ratu lama
       Umi Tah sai dilom bumi                            Ibu ratu merittah, semua yang hadir                        

       Susah payah rigi keciwa                           Susah payah campur kecewa   
       Anjak mula ke-upianku                            Semenjak saya dilahirkan    
Unyin ni kilu suka                                    Semuanya mohon direlakan    
       Tececom ku-usung mati                           Semuanya ku ingat sampai mati
  
23. Yaa Allah, Tuhan Rabbana                        Ya Allah Tuhan yang mulia   
       Sai nunda badan kaku                              Yang membuat badan kaku/tak berdaya
       Kiyai-Papa kak mena                               Kakak, ayah sudah meninggal                     
       Mak nengan di nyak lagi                          Tidak sempat menyaksikan saya
                            
       Tanggohku mak wat pira                         Pesan saya tidak banyak 
       Api lebih anjak keluhu                             Tiada lebih dari ucapan qulhu (Al-ihlas) 
       Telunggu ko di pusaka                             Diucapkan diatas makam                             
       Selawat tutuk ngaji                                  Selawat disertai mengaji/membaca alqur'an        

24.  Minak Aja Sutan Kuasa                           Paman Suttan Kuasa        
       Sutan Penatih, ayahku                             Suttan Penatih, ayahku    
       Sikam appun sekalian dusa                      Saya mohon ampun semua dosa
       Anjak pina sappai natti                            Dari dulu sampai sekarang 

       Haropku mak nad bela                            Harapan saya terus/selalu ada  
       Jungaw sikam unggal wattu                      Silahturahmi sya setiap waktu  
       Anggopku gatti papa                               karena meraka ganti ayah       
       Ngan ngulangko teda hati                        Tempat mengadukan segala nasib 

25.  Siji puput ni cawa                                    Selesailah semua tangguhan           
       Ngeharop tuwah kuku                             Mengharapkan nasib terselip dikuku   
       Sedok tawai kak tebata                           Petuah dan didikan
       Kak jadi pengisi diri                                 telah dimengerti  

       Sabungan ram kak bela                            Pekerjaan kita sudah selesai   
       Sanggar penaccung radu                          Tanda/simbol sudah dipahami 
       Kanduk telu, mai kidah                            Selendang tiga warna, berikan dengan saya
       Pakai ko di nyak lagi                                Pasangkan ditubuh saya      

Tanjungkarang, 13 November 1978
Digubah dan dibabarkan oleh:
Pengiran Hoofd Marga gelar sekarang Umpuan Hoofd Marga
Terbanggi Balak           



Contoh  bentuk lain Ringget "Malang bagian" (malang  nasib)  dalam dialek api:

Beringin di sebekhang,                                   Beringin di seberang
Nyepakhak helau gakhimbung,                       Segar indah dan rimbun
Ngejuttai di pinggekh wai,                               Berjuntai di tepi sungai
Tebitta nasib malang,                                      Terkenang nasib malang
Miwang tugok di jattung,                                Menangis sampai di jantung
Tuhan gawoh sai pandai.                                Tuhan saja yang tahu

Ngegulung asok cakak,                                   Begulung-gulung asap naik
Apui nganik kayu di ghanglaya,                       Api makan kayu di jalan
Uttung mak nutung kebun,                               Untung tidak membakar kebun
Waktu ditinggal ko Apak,                                Ketika ditinggalkan ayah
Appai tetawai lalang,                                       Baru belajar tertawa
Khettine lagi hujau.                                          Artinya masih mentah

Hinalah sai ti tekhak,                                       Itulah jalan yang di lewati
Anjak sanak tugok tuha,                                 Sejak kecil hingga dewasa
Senang mawat sekali,                                      Senang belum pernah dialami
Sinjang sakhak tambalan.                                Sarung robek tambalan
Tambal epak lima,                                           Sudah banyak tambalannya
Warna ni khadu mak lagi.                                Warnanya sudah hilang

Ngeliak ulun sai bakhih,                                   Melihat orang yang lain
Khani manom khik mawas,                              Sore hari dan siang
Lapah mak napak tanoh,                                 Berjalan tidak memijak tanah
Kham tingal mapah dagu,                                Kita hanya bisa melamun
Luh gugokh gemekhabas,                                Air mata jatuh menetes
Lamunan kesokh jawoh.                                  Lamunan tambah mendalam

Waktu nyappokh sai khamik,                          Ketika campur bergaul
Api daya uwah ni lepang,                                Apa dayanya buah timun
Lamun lawan dekhiyan,                                  Jika berlawanan dengan durian
Bagian kham di pinggekh,                               Bagian kita di pinggir
Ibarat ijan gakhang,                                        Ibarat anak tangga dapur
Mata sai di bah tegalan,                                  Anak tangga yang paling bawah

Cawa tiyan sai tuha,                                        Kata mereka yang tua
Dang putuk penghakhopan,                            Jangan putus pengharapan
Bedu'a debi pagi,                                            Berdoa saore dan pagi
Mahayu nyak lapah duma,                              Pagi saya ke ladang
Maklum ana upahan,                                       Maklum menjadi buruh
Bekusi netok jami,                                          Memotong kayu dan merumput

Tebitta nyepok katca,                                      Teringat mencari kawan
Sai dapok jama mupakat,                                Yang biasa diajak mufakat
Kippak dawah debingi,                                   Walau siang dan malam
Sasakh masangko pinja,                                  Selalu memasang jerat
Kik bekas juga mawat,                                    Jerat tersentuh pun tidak
Api lagi aga massa.                                         Apalagi akan mendapat

Wai Putih ngikhih-kikhih,                                Sungai Seputih terus mengalir
Wai Andak kenahan batu,                              sungai putih batunya nampak
Sekappung kena bendung,                              Sungai Sekampung kena bendung
Najin wat ijah pilih,                                         Meskipun ada cara memilih
Telanjokh ana khadu,                                      Tapi sudah terlanjur
Nasib sangun mak uttung.                               Nasib memang tak beruntung

Bukhoh tengah lautan,                                     Buih di tengah lautan
Nutuk imbusan angin,                                      Mengikuti hembusan angin
Khena do diriku ji,                                          Begitulah diriku ini
Najin miwang kebiyan,                                    Meskipun menangis seharian
Kah mawat dapok balin,                                 Tidak mungkin dapat berubah
Gelik luh mak beguna.                                     Habis air mata tiada berguna

Segala macom tetekha'an,                                Segala macam pengalaman
Kucawa ko di sapa,                                         Kukatakan kepada siapa
Kattu mak gegoh pilih,                                     Kalau tak sama pilihan
Cukup pai tigok dija,                                        Cukup dulu hingga di sini
Cerita gelik tak ja,                                            Cerita habis di sini
Mahap terima kasih.                                         Ma'af dan terima kasih