MASYARAKAT MAJEMUK
(PLURAL SOCIETY)
Oleh: Abdul Syani
A. DASAR TEORI
Indonesia merupakan negara yang memiliki struktur masyarakat dengan ciri pluralitas yg tinggi. J.S Furnival: pada masa Hindia Belanda masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk, yaitu: suatu masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri di dalam satu kesatuan politik.
Di dalam kehidupan politik masyarakat Indonesia bersifat majemuk, penguasa dan yang dikuasai memiliki perbedaan ras.
Cliforts Geerts: masyarakat majemuk adalah masyarakat yang terbagi-bagi dalam sub-sub sistem yangg kurang lebih berdiri sendiri. Dimana masing-masing subsistem terikat ke dalam ikatan-ikatan yang bersifat primordial.
Piere L.Van den Bergher: beberapa ciri masyarakat majemuk, yaitu:
Terjadinya segmentasi ke dalam bentuk kelompok-kelompok yang seringkali memiliki sub kebudayaan yg berbeda satu sama lain.
Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat non-complementer
Kurang mengembangkan consensus diantara para anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar
Secara relatif seringkali mengalami konflik-konflik di antara kelompok satu denang kelompok lainnya
Secara relative integrasi sosial tumbuh diatas paksaan dan saling ketergantungan di dalam bidang ekonomi
Adanya dominasi suatu kelompok atas kelompok-kelompok lain.
Max Weber: Masayrakat majemuk (pluralistik): masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok, sub kelompok yang berbeda satu sama lainnya. Ada 3 macam keteraturan yang dapat mengikat orang dengan sesamanya menjadi satu, yaitu: ekonomi (tatanan ekonomi), politik (tatanan politik), dan kebudayaan (tatanan budaya).
Masing-masing tatanan mempengaruhi perilaku manusia dengan hasil yang tidak sama untuk semua orang, bisa terpengaruh, kurang atau tidak terpengaruh sama sekali. Contoh: dalam tatanan ekonomi tumbuhnya institusi dan kebiasaan bahwa dalam kehidupan pasar yang penting pemilikan uang, siapapun pembeli, bangsawan, gembel, tak peduli, yang penting siapa yang punya uang, ia berhak memperoleh barang.
Masyarakat terbentuk banyak kelompok/institusi sosial yang masing-masing dalam bersikap dan bertindak selalu berusaha mempengaruhi orang lain. Dalam situasi tertentu dapat menimbulkan konflik antara masing-masing institusi sosial. Jadi masyarakat majemuk cenderung rentan konflik.
Dalam masyarakat majemuk, terdapat macam assosiasi (perkumpulan) yang bersifat indipenden/berdiri sendiri, atau bebas dari pengaruh/ketergantungan dengan assosiasi lain, misal: assosiasi Agama, Budaya, Profesi, Ekonomi, Politik, Advokad, dan lain-lain.
B. KONSEP MASYARAKAT MULTIKULTURAL
Berbagai konsep yang relevan dengan multikulturalisme antara lain: demokrasi, keadilan dan hukum, nilai-nilai budaya dan etos, kebersamaan dalam perbedaan yang sederajat, kesukubangsaan, kebudayaan sukubangsa, keyakinan keagamaan, ungkapan-ungkapan budaya, domain privat dan publik, HAM, hak budaya komuniti, dan konsep-konsep lain yang relevan. Masyarakat multikulturalisme adalah sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun kebudayaan.
Masyarakat majemuk dapat dipahami sebagai masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok dan strata sosial, ekonomi, suku, bahasa, budaya dan agama. Di dalam masyarakat majemuk, setiap orang dapat bergabung dengan kelompok lain tanpa rintangan sistemik yang dapat mengakibatkan terhalangnya hak untuk bergabung dengan kelompok tertentu.
Masyarakat majemuk (Indonesia) diperjuangkan untuk menjadi masyarakat multikultural, karena dalam masyarakat multikultural, hak-hak untuk berbeda diakui dan dihargai.
Upaya penyebarluasan, pemantapan dan penerapan ideologi multikulturalisme dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, maka harus bersama-sama dalam penyebaran dan pemantapan ideologi demokrasi dalam porsi yang seimbang. Sehingga setiap orang Indoensia mempunyai kesadaran tanggungjawab tidak berlaku sewenang-wenang terhadap orang, kelompok dan golongan lain.
Pluralitas bermakna positif jika interaksi dan relasi saling percaya antara sesama (social-trust). Ini prasyarat terciptanya masyarakat yang beradab dan bermartabat, yaitu: masyarakat yang memiliki moral, akhlak, etika, budi luhur, santun, sabar dan arif, menghormati hak asasi, menghormati diri sendiri, orang lain, bangsa sendiri, bangsa lain, suku/kelompok sendiri dan suku/kelompok lain.
Menghormati pluralitas harus sejalan dengan menghormati peradaban dan martabat. Tidak ada artinya pluralitas jika mempertahankan budaya primitif, keterbelakangan dan perbedaan dengan alasan kemurnian budaya lokal atau hak asasi tanpa mepertimbangkan hak manusia dalam sistem kehidupan bersama.
Karakteristik Pluralitas
watak majemuk secara sosio-kultural aslinya. Masyarakat Indonesia terdiri suku-suku bangsa dengan cara hidup bermasyarakat dan berbudaya, adat istiadat dan 300 lebih dialek lokal, hidup di atas ±17 ribu pulau.
watak sosio-politik dan kekuasaan. Setelah era proklamasi bangsa ini mencitrakan diri sebagai bangsa majemuk untuk mengisi kemerdekaan dengan mengikuti cara-cara demokrasi politik liberalisme Barat. Di sini dimulai pengaruh kultur politik kosmo-globalisme. Dengan demikian, maka niat monolitik, berubah menjadi multi partai. Pluralitas politik dihalalkan, dengan harapan tidak asal berdiri, melainkan turut memperjuangkan kepentingan rakyat banyak yaitu mempertahankan kemerdekaan dan memperjuangkan keamanan rakyat (Deliar Noer, 1990:284-289).
Watak pluralitas agama secara sosiologis. Dalam rentang waktu, watak pluralitas agama tidak terkait secara langsung dengan reformasi politik jatuhnya Soeharto 21 Mei 1998.
Watak Orde Baru: selalu merujuk kepada kestabilan pembangunan sehingga melahirkan trilogi pembangunan yang disebut: stabilitas keamanan; pertumbuhan ekonomi dan; pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, maka setiap gejala intrik suku, agama dan hubungan antara golongan (SARA) yang bersifat primordialistik, selalu ditekan.
Khusus hubungan antar agama, pemerintah mempunyai rambu tri-kerukunan antar pemeluk agama, yaitu: kerukunan hidup internal umat beragama; kerukunan hidup antara umat berlainan (eksternal) agama; dan kerukunan hidup pemeluk dan organisasi agama denganpemerintah.
Catatan: Pluralisme agama dapat membawa pengertian agama itu sama, sehingga dapat membahayakan akidah suatu agama.
C. DEFINISI MASYARAKAT MAJEMUK:
Masyarakat disbt majemuk, jika memenuhi 1 dari 2 definisi berikut ini:
Masyarakat terdiri dari komunitas etnik berbeda-beda, komunitas etnik hidup terpisah-pisah, dan masing-masing memiliki moralitasnya sendiri.
Masyarakat hidup di dalam satu komunitas yang sama, namun dipisahkan satu sama lain oleh pasar. Pada titik ini ada 2 kemugkinan kehidupan sosial, yaitu: terciptanya semacam moralitas bersama yang mendorong hidup bersama secara harmonis, atau justru menciptakan relasi dominatif antara kelompok kuat terhadap kelompok lemah, di mana relasi dominatif sebagai pengikat kehidupan bersama.
M.G Smith [1965]: Masyarakat majemuk ditandai beragamnya perangkat aturan nilai yang digunakan untuk menata kehidupan sosial manusia, dan masing-masing aturan nilai bersifat total bagi orang-orang yang berada di dalam kultur tertentu. Tidak ada sabuk pengikat kehidupan bersama, bahkan menurut Smith, masyarakat majemuk justru diikat oleh adanya dominasi kelompok yang satu atas kelompok yang lain. Jadi elemen yang mengikat masyarakat majemuk untuk tetap eksis sebagai masyarakat adalah dominasi.
Masyarakat multikultur ideal: jika kelompok-kelompok sosial yang berbeda memiliki kekuatan politik yang setara, yaitu: setara dalam bentuk partisipasi, baik dalam kehidupan-kehidupan publik, maupun dalam proses-proses pembuatan keputusan yang terkait dengan kepentingan bersama.
Kultur minoritas harus belajar dari kultur mayoritas, sebaliknya kultur mayoritas tetap juga harus belajar dari kultur minoritas. Proses ini akan mendorong terciptanya penghormatan terhadap kesetaraan kultur di dalam masyarakat majemuk.
Salah satu bidang yang memiliki dampak besar bagi kehidupan bersama adalah bidang ekonomi. Artinya, bidang ekonomi harus memiliki seperangkat aturan moral yang dapat ditata demi kepentingan publik.
Kendati demikian tujuan-tujuan politis selalu melahirkan konflik karena besarnya intensitas kepentingan dan hak-hak individu/kelompok, alasan perbedaan etnis.
T. Marshall: bahwa dalam masyarakat multikultur, negara tidak hanya memenuhi hak-hak politik maupun hak-hak legal rakyatnya, tetapi juga hak sosial maupun kultural warganya. Harapannya: dengan diperhatikan hak-hak sosial maupun kulturalnya, maka warga dapat memahami bahwa kepentingan bersama lebih penting daripada kepentingan kelas sosial atau golongan.
Orang-orang dari kultur dominan hidup harmonis sebagai bagian dari sistem sosial secara keseluruhan. Sedangkan anggota masyarakat dari kultur minoritas mereka merupakan bagian dari sistem sosial lain yang berbeda; seolah mereka berasal dari kebudayaan yang dominan di dalam masyarakat.
Secara umum masyarakat majemuk dapat didefinisikan sebagai suatu masyarakat yang terdiri dari atas banyak suku bangsa, kebudayaan, asal usul, ras, cara hidup, tingkat ekonomi, status sosial dan sikap politik, tanpa pembauran satu sama lain.
Yang terpenting kondisi majemuk perlu pemeliharaan terhadap sentimen dan keangkuhan assosiasi intern agar tidak berlebihan, merasa lebih tinggi atau lebih rendah keberdayaannya dari assosiasi yang lain.
Kenyataannya sering konflik antara assosiasi yang berbeda misi visinya. contoh: ada anggapan bahwa profesi Dokter lebih baik daripada sarjana ABI. Mengapa? Karena interpretasi masyarakat menganggap bahwa kesejahteraan dan masa depan Dokter lebih baik daripada sarjana ABI.
Ditinjau dari struktur masyarakat secara horizontal: kenyataan menunjukkan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, etnik, perbedaan agama, perbedaan adat istiadat, perbedaan kedaerahan.
Sedangkan secara vertikal adanya perbedaan-perbedaan antara lapisan atas dan lapisan bawah cukup tajam. Melihat kondisi ini, hal diatas ini juga dapat merupakan sumber konflik.
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka melahirkan dua teori yaitu teori konsensus dan teori konflik.
Masyarakat model konsensus:
Norma dan nilai sbg elemen-elemen dasar dalam kehidupan sosial
Konsekuensi kehidupan sosial adalah komitmen
Masyarakat kompak
Kehidupan sosial tergantung pada solidaritas
Kehidupan sosial didasarkan pada kerja sama dan saling
memperhatikan/saling membutuhkan
Sistem sosial tergabung pada konsensus
Masyarakat mengakui adanya otoritas yang sah
Sistem sosial bersifat integratif
Sistem sosial cenderung bertahan
Masyarkat model konflik:
Kepentingan merupakan elemen dasar dlm kehidupan sosial
Konsekuensi kehidupan sosial adalah paksaan
Kehidupan sosial terpecah belah
Kehidupan sosial menghasilkan oposisi, perpecahan, dan permusuhan
Kehidupan sosial menghasilkan konflik yang berstruktur
Kehidupan sosial menghasilkan kepentingan yang sudah dikotak-kotakkan
Diferensiasi sosial menghasilkan kekuasaan
Sistem sosial merusak integrasi dan padat kontradiksi
Sistem sosial cenderung berubah
D. MASYARAKAT MAJEMUK INDONESIA
Indonesia ditinjau dari berbagai aspek merupakan sebuah bangsa yang majemuk. Kemajemukan ini tampak dalam wujud etnis dan budaya Indonesia yang beragam, seperti etnis dan budaya Jawa, Madura, Lampung, Sunda, Batak, Padang, Toraja, Bugis, Dayak, Banjar, Betawi, dan sebagainya. Contoh khusus: kemajemukan sikap politik dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang nampak dalam bentuk partai-partia politik yang bervariasi.
Keanekaragaman kultur (multikultur) Masyarakat multikultur: terdiri dari aneka pelapisan sosial dan budaya yang berbeda satu sama lain. Slogan Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu) bersifat filosofis-politis, sebagai unsur pemersatu atas perbedaan-perbedaan tersebut. Agar tidak mudah terpecan belah. Bhikhu Parekh (2008): keanekaragaman kultur ini dapat dibedakan menjadi 3 yaitu : 1) Keanekaragaman Subkultural, 2) Keanekaragaman Perspektif, dan 3) Keanekaragaman Komunal.
Keanekaragaman Subkultural: suatu kondisi di mana anggota masyarakat menganut satu kebudayaan umum yang luas, di antara mereka menjalankan keyakinan dan praktek berbeda berkenaan dengan wilayah kehidupan tertentu atau menempuh cara hidup mereka sendiri yang relatif berbeda. Contoh: kelompok-kelompok miskin urban punk, kaum waria, gay, lesbian, dan kelompok-kelompok menyimpang, seperti komunitas Lia Eden, dan kelompok-kelompok sempalan agama lainnya.
Budaya-budaya Punk, kaum urban miskin kota, penduduk wilayah perbatasan, kelompok-kelompok buruh, kemudian membangun sistem nilai dan cara hidup sendiri yang kemungkinan berbeda dengan masyarakat Indonesia secara umum. Tapi walau berbeda, mereka masih mengakui aturan dan sistem hukum yang berlaku.
Keanekaragaman Perspektif: suatu kondisi di mana beberapa anggota masyarakat sangat kritis terhadap beberapa prinsip atau nilai-nilai sentral di sepanjang garis kelompok yang sesuai. Contoh: Gerakan-gerakan Feminis dan emansipasi perempuan, isu-isu pembentukan masyarakat madani di Indonesia, isu-isu pembentukan Negara Islam atau Negara Pancasila, dan sebagainya. Keanekaragaman Komunal: suatu kondisi di mana sebagian besar masyarakat dari beberapa komunitas yang sadar diri dan terorganisasi. Mereka menjalankan hidup deng sistem keyakinan dan praktek yang berlain satu kelompok dengan lainnya. Contoh: kawasan-kawasan Pecinan (hunian komunitas Cina), wilayah-wilayah yang dihuni suku-suku bangsa di luar wilayahnya (komunitas Batak di Jakarta, Bandung, Lampung dan lain-lain).
Multikulturalisme di Indonesia: lebih kompleks dari sekedar aspek etnis, karena ternyata etnis di Indonesia telah banyak mengalami perubahan makna. Contoh: William orang Lampung menikah dengan Tini dari Jawa. William relatif mudah mengidentifikasi diri sebagai orang Lampung. Demikian pula Tini, relatif mudah mengidentifikasi diri sebagai orang Jawa. Namun, bagaimana dengan anak-anak mereka? mengidentifikasi diri sebagai orang Lampung, orang Jawa, ataukah orang baru alias Japung, Pujakesuma atau anak Indonesia atau mengidentifikasi diri sebagai orang setengah Lampung dan setengah Jawa. Demikian juga aneka budaya baru, perkembangan teknologi, industrialisasi, dan percampuran penduduk membuat kategorisasi keragaman semakin luas sebagai kajian sistem sosial dan budaya Indonesia. T
Sabtu, 14 Mei 2016
Kamis, 12 Mei 2016
SASTRA LISAN LAMPUNG: RINGGET
RINGGET
Ringget adalah salah satu bentuk sastra lisan Lampung
yang sering dipergunakan dalam upacara pelepasan mempelai wanita,
pengantar musyawarah adat, atau pelengkap acara
cangget. Isinya secara umum berupa kenangan masa lalu, harapan, atau
pesan-pesan kehidupan. Jika ringget digunakan dalam upacara
pelepasan mempelai wanita, pengungkapannya dilakukan sesaat sebelum
keberangkatan.
Contoh Ringget: Peradu Muli Kanjeng Ibu Merittah - BUMIAGUNG (Bukukjadi)
di-ibal ulun anjak Kutobumi Ilir-PINENG NGERABUNG SANGGAR
Tanggal, 16 November 1978
1. Parib sikam
segala Maaf saya sampaikan
Dikuti segeri umpu Kepada
semua cucu
Kemaman tanjar
Bapak Bapak bersama Paman
Kelepah serta
mehani Saudara laki-laki dan perempuan
Jemelek munih kelama Termasuk
semua kelamo
Sappunan rumpun lebu Demikian
pula dengan lebu
Bapakku passi Lima Semua
bapak dalam paksi lima
Laju dibidang suku Terus
semua yang patut di kampung
2. Panas kebian
sina Pada hari ini
Nyak diitarko segala kuti Saya
diantarkan/dilepas semua orang kampung
Tujuan siwa miga Menuju
kebuaiyan Abung Siwo Migo
Unyai suro menanti tepatnya
buwai Unyai
Lapahku nunjul berita Perjalanan
saya jadi bahan berita
Kejureman kelama lebu Atas
persetujuan kelamo dan lebew
Bindangan kak
nyehaja mufakat yang pasti
Nyak mittar anjak titi Saya
jalan sesuai dengan aturan/kebiasaan)
3. Lamun Kinandi
gila Lamunan ini pilihan/niat saya
Mak kung tigoh dipepadu Belum
sampai difikir secara dalam
Sedokku mak sepira Pengetahuan
saya belum berarti
Nyak dilom pihaman kuti Saya
masih dalam perhatian semua
Anying ana
cita-cita Kalaupun ini cita-cita/jadi permohonan
Sanak haruk nyundang laku Anak
yatim membuat/bersikap
Api cawa sai tuha Apa yang dikatakan para orang tua
Kak sina pedoman hati itulah
pedoman hati
4. Ki ngitung
rita-rita Andaikan cita-ciata/harapan
Tala sayup kerungu Suara
tabuhan sayup terdengar
Anying rasaku bangga Perasaan
saya menjadi bangga
Ya hina dandan kuwari Karena
itu memang kebiasaan kita
5. Kususun jari
lima Saya tutup muka dengan telapak tangan
Nyak appun tikkah laku Saya
mohon ampun atas perilaku
Ya sanak laju sai tuha Dari
anak sampai tua
Sambut ucap pesiri Terimalah
ucapan dan perasaan hati ini
Nyak mahap nglaim pura Saya
mohon maaf kepad sumuanya
Ngapura sambut pungu Terimalah
tangan saya/mohon maaf saya
Jak timbai sappai gatta Dari
dulu sampai sekarang
Kattu wak teselok dihati Kiranya
ada perasaan dihati
6. Ana kutting
ngissi perada Itu tanda perasaan saya secara
Sang lambung pupasang tippu adat/agama Dari
hati saya yang sangat dalam
Pak likor rial nyata Dua
puluh empat rial nyata
Teninggalku dikuti Telah
saya serahkan
Kerbau kerai ana ya Kerbau
besar itu tandanya
Tali cindai jikkau pitu Cindai pengikatnya
tujuh
Tenambang di kaju
ara langkah panjangnya terikat di kayu ara
Pemakai kuti
passi Pakaian semua paksi
7. Ki dulah
segala pusaka Semua pusaka
Penyapuk bidang suku Pegangan
semua suku
Anjung tatah
perada Ruang berhias perada/emas
Serta tabuh gegili Serta
bunyi (suara tabuhan)
Pengejuk kak kuterima Pemberian
telah saya terima
Ya jadi anggunanku Akan
menjadi pegangan hidup
Hangguk mak semarana Senangnya
bukan kepalang
Tanda tunjang Bukujadi Sebagai
simbol dari Bukujadi
8. Rena munih
perbia Begitulah/demikian pula perlengkapan
Tumpak kabet dipenaku Disimpan diatas loteng
Keragoman ram
secita Kebiasaan kita semua
Lamun mak jadi hati Jangan
menjadi sesalan/perkataan
Sejjar wat dinah mata Sekadar
dilihat mata/menjadi kenangan
Yana jadi
kelippu Itu jadi pegangan
Guwai seranja nata Karena buatan pendahulu
Petigohanku dudi natti Setelah
saya sampai tujuan
9. Payung sai di
kayu ara Payung yang tertancap di kayu aro
Jadi ko jejang katahu Jadikan
sumber inspirasi
Jukko di bidang miga Serahkan
dengan semua marga
Jemelok
sai ngatteni gawi Karena mereka yang
memeriahkan acara
Yana gila amalan tuha Itu
adalah kebiasaan lama
Angguan goh keluhu Seperti
mengucapkan surat al-ihlas
Jadi petanda citta Pemantapan
jiwa
Bidang jaman ram kuwari Setiap
waktu kita berbuat/melaksanakan acara
peminangan/adat
10. Kerabat meranai
sudara Seluruh keluarga besar
Kuti muli puariku Khususnya
para bujang dan gadis
Liwak ram kebian
sina Berpisah kita mulai sekarang
Wattu tunggu induh wacci Entah
kapan kita dapat berjumpa
Salamku jari lima Selamat
tinggal saudara
Teda ko ram semehayu Ingatlah
kita di pagi hari
Nyak appun sekalian
dusa Saya
mohon ampun semua dosa
Dang nyamok dilom hati Jangan
menyimpan dendam
11. Ragom kuti nyehaja Ramai
kita bergembira sambil bekerja
Angkat junjung didiriku Bekerja bergotong royong untuk diri saya
Jak pilangan tigoh
di rata Dari cangget
pilangan (persiapan sampai selesai)
Mandi kesudan munih
diattoni Sampai-sampai mandipun saya ditemani
Sakai kuti mak lupa
Bantuan
anda tidak akan saya lupakan
Kucatat dilom kalbu Selalu saya catat di dalam hati
Sembayan harop neda Kerelaan hati anda telah jelas
Ki-kak wattu ngekali Mudah-mudahan saya dapat membalas
12. Betik munih
dibitta Baik juga diingatan
Ana nagau tebuku Itu
ada tanda terima kasih saya
Kerbau sai arung kelama Seekor
kerbau untuk kalian
Keris sai aguk
mehani Keris/puduk untuk saudara laki-laki
Seperakkat kawai tuha Seperangkat
pakaian kebesaran
Ya cawa arung lebu Disampaikan
kepada lebbu
Sinjang cucuk
serba Sarung bagus serba indah
Upah tuha aguk Mami Kuserahkan
sebagai tanda terimakasih kepada ibu
13. Keris sai ana
ya Keris yang ada disana
Paruan urang kubu Penggunanya
orang kubu
Ingunan kambas
yana Peliharaan semua kita
Aguk kemaman sai tebunyi Untuk
paman yang setia
Patut jadi serana Wajib
jadi alat
Tutuk munih penganggu Termasuk
yang harus pelihara
Tepakai unggal masa Karena
dipakai/digunakan
Petindan balin titi sepanjang
masa Tandanya silih berganti
14. Muli meranai
mak lupa Bujang gadis jangan lupa
Kerbau sai halom bulu Kerbau
yang hitam bulunya
Tukkah raccing setangga Tanduk
runcing dan setangkai bunga
Kelekir ni gelang
ghuwi Buhulnya gelang duri
Pengubangan ni talam salaka Pembasuhnya
talam suasa
Tali ni cindai ungu Tali
cindai berwarna ungu
Penambangan linggis tuha Tempat
pengikat linggis pusaka
Warisan Bukukjadi Warisan
Bukukjadi
15. Pemuluan sapa
nerima Penggantian siapa yang menerima
Baju sai, sulang lakbu Baju
yang dibuat sengaja
Kepiah sinjang
tuha Songkok dan sarung tua/pusaka
Aguk bapak patudan jadi Diterimakan
dengan ayah sebagai tanda jadi
Nyak ridu ulahku di-ya Saya
bingung bagaimana caranya
Lamun mak jadi semu Bila
tak jadi, sayang......
Dandan kuti jadi
pah'la Kerjaan semua jadi pahala
Sai nerima yak kak kari Yang
menerima sudah ada
16. Kutengok munih
dirasa Saya juga menimbang rasa
Kuti penuha
penglaku Semuanya sudah lanjut usia
Tigoh d'ngicilko duara Sampai
merapihkan kain maduara
Anjak di ngatur
gawi Dari menata gawi
Susah payah kuterima Susah
payah saya mengerti
Anying apa dayaku Namun
apa daya
Ana
belacu nom ila Itu ada kain putih enam
meter
Tanda mak rusak tuwi Tanda
saya ingat/memperhatikan
17. Telesan
ginggang tuha Kain basahan sudah lama
digunakan
Akkit kuti adikku Ambillah
adik-adikku
Amani rik soeraya Amani
dan Soraya (dua orang adiknya)
Jamukko dilom peti Simpanlah
didalam peti
Mandi kesudan kas berita Tempat
mandi hanya tinggal berita
Guna jadi pengganggu Gunakan
dengan baik
Sina teladan suri pecitta Itu
adalah suri teladan
Mak lucuk ngakang tali Tidak
akan rusak/putus bila diikat
18. Punggawa
Jeragan saka Panglima memang ikutan sejak dulu
Galung-gabai
mak lekot talu Memang menjadi pujaan
Nguta anggar Beraja Nata Pagar diri si Braja nata (nama Nguta anggar
Beraja
Nata pahlawan)
Mak kicom ki ulah bani Tidak
perlu takut kalau benar
Ngemulan Batin
nyusun bicara Ngemulan batin (nama orang) menata bicara
Alah tappang, kacak ketahu Paras
baik, bicara pandai
Anggar tepaccun jadi ketara Tiang
dipotong jelas tampaknya
Bedani wawai uri Perdamaian
baik urusannya
19. Ngepang bunga
jenaga Menjaga bunga mekar
Tukuh biring tebuan kelabu Dari
isapan madu kumbang/tawon
Singa Dawan cecom kemala Singa
dawan siap berjaga
Sai nyamukko tetung
taji Karena
ia menyembuyikan taji
Unggal jaman senabung juga Setiap
waktu selalu diadu
Ceca ni sangun radu Namanya
sudah disediakan
Alah bupadan, Ubas kelana Kalah
berunding, baru terpikirkan
Besapon di paccung gawi Bersiap di ujung gawi
20. Semampi bunyi
tala Sayup sayup suara talo (gong besar)
Gusar nyalubung hatiku Was-was persaan hati
Sesok napas nyusor dada Sesak napas di dada
Irai luk ku mehili Tersendat darahku mengalir mengingat
Mama-Duli-Maharaja Ibu,
kakak perempuan, laki-laki (panggilan)
Datuk perdana umpuku Datuk perdana (nama orang) cucuku
Lepaskan nyak iringi du'a Lepaskan
(berangkatkan) saya dengan iringan do'a
Tuah rawan k'kalau tebiti Semoga
saya berbahagia atas petunjuknya
21. Ratu passi sambungan
nyawa Ratu
paksi penerus generasi
Nama keponakan penyimbang
(tutur/panggilan) pada istri
Kanjeng sumbahan tumpuanku Kanjeng
sembahan harapanku
Wattu suku tigoh getika Waktu suku sampai disini
Rila ko nyak balin titi Relakan
saya beralih cara
Ki ngitung mak pisah rasa Walaupun
tidak ada perasaan berpisah
Tedos haruk, nakenku Tegar
yatim, keponakanku
Ujian segala gippa Itu
semua adalah ujian
Ulohku di Maha Suci Kembalikan kepada allah yang suci
22. Umi junjungan
rik mama Ibu (keminan dari ibu) dan mak
Unyin kemaman
samapi umpu Semua paman dan cucu
Makwanku Ratu lama Ibu
(keminan dari ayah) juluk Ratu lama
Umi Tah sai dilom bumi Ibu ratu merittah, semua yang hadir
Susah payah rigi keciwa Susah
payah campur kecewa
Anjak mula
ke-upianku Semenjak saya dilahirkan
Unyin ni kilu suka Semuanya
mohon direlakan
Tececom ku-usung
mati Semuanya ku ingat sampai mati
23. Yaa Allah,
Tuhan Rabbana Ya Allah Tuhan
yang mulia
Sai nunda badan
kaku Yang membuat badan kaku/tak berdaya
Kiyai-Papa kak mena Kakak,
ayah sudah meninggal
Mak nengan di nyak lagi Tidak
sempat menyaksikan saya
Tanggohku mak wat pira Pesan
saya tidak banyak
Api lebih anjak keluhu Tiada
lebih dari ucapan qulhu (Al-ihlas)
Telunggu ko di pusaka Diucapkan
diatas makam
Selawat tutuk ngaji Selawat disertai mengaji/membaca alqur'an
24. Minak Aja Sutan
Kuasa Paman Suttan Kuasa
Sutan Penatih, ayahku Suttan
Penatih, ayahku
Sikam appun sekalian dusa Saya
mohon ampun semua dosa
Anjak pina sappai natti Dari
dulu sampai sekarang
Haropku mak nad bela Harapan
saya terus/selalu ada
Jungaw sikam unggal wattu Silahturahmi
sya setiap waktu
Anggopku gatti
papa karena meraka ganti ayah
Ngan ngulangko teda hati Tempat
mengadukan segala nasib
25. Siji puput ni
cawa Selesailah semua tangguhan
Ngeharop tuwah kuku Mengharapkan
nasib terselip dikuku
Sedok tawai kak tebata Petuah
dan didikan
Kak jadi pengisi diri telah dimengerti
Sabungan ram kak bela Pekerjaan
kita sudah selesai
Sanggar penaccung radu Tanda/simbol
sudah dipahami
Kanduk telu, mai kidah Selendang
tiga warna, berikan dengan saya
Pakai ko di nyak lagi Pasangkan
ditubuh saya
Tanjungkarang, 13 November 1978
Digubah dan dibabarkan oleh:
Pengiran Hoofd Marga gelar sekarang Umpuan Hoofd Marga
Terbanggi Balak
Contoh bentuk lain Ringget "Malang bagian"
(malang nasib) dalam dialek api:
Beringin di sebekhang, Beringin
di seberang
Nyepakhak helau gakhimbung, Segar
indah dan rimbun
Ngejuttai di pinggekh wai, Berjuntai
di tepi sungai
Tebitta nasib malang,
Terkenang nasib malang
Miwang tugok di jattung, Menangis
sampai di jantung
Tuhan gawoh sai pandai. Tuhan
saja yang tahu
Ngegulung asok cakak, Begulung-gulung
asap naik
Apui nganik kayu di ghanglaya, Api makan kayu di jalan
Uttung mak nutung kebun, Untung
tidak membakar kebun
Waktu ditinggal ko Apak, Ketika
ditinggalkan ayah
Appai tetawai lalang, Baru
belajar tertawa
Khettine lagi hujau. Artinya
masih mentah
Hinalah sai ti tekhak, Itulah
jalan yang di lewati
Anjak sanak tugok tuha, Sejak
kecil hingga dewasa
Senang mawat sekali, Senang
belum pernah dialami
Sinjang sakhak tambalan. Sarung
robek tambalan
Tambal epak lima, Sudah
banyak tambalannya
Warna ni khadu mak lagi. Warnanya
sudah hilang
Ngeliak ulun sai bakhih, Melihat
orang yang lain
Khani manom khik mawas, Sore
hari dan siang
Lapah mak napak tanoh, Berjalan
tidak memijak tanah
Kham tingal mapah dagu, Kita
hanya bisa melamun
Luh gugokh gemekhabas, Air
mata jatuh menetes
Lamunan kesokh jawoh. Lamunan
tambah mendalam
Waktu nyappokh sai khamik, Ketika
campur bergaul
Api daya uwah ni lepang,
Apa dayanya buah timun
Lamun lawan dekhiyan, Jika
berlawanan dengan durian
Bagian kham di pinggekh, Bagian
kita di pinggir
Ibarat ijan gakhang, Ibarat
anak tangga dapur
Mata sai di bah tegalan, Anak
tangga yang paling bawah
Cawa tiyan sai tuha, Kata
mereka yang tua
Dang putuk penghakhopan, Jangan
putus pengharapan
Bedu'a debi pagi, Berdoa
saore dan pagi
Mahayu nyak lapah duma, Pagi
saya ke ladang
Maklum ana upahan, Maklum
menjadi buruh
Bekusi netok jami, Memotong
kayu dan merumput
Tebitta nyepok katca, Teringat
mencari kawan
Sai dapok jama mupakat, Yang
biasa diajak mufakat
Kippak dawah debingi, Walau
siang dan malam
Sasakh masangko pinja, Selalu
memasang jerat
Kik bekas juga mawat, Jerat
tersentuh pun tidak
Api lagi aga massa. Apalagi
akan mendapat
Wai Putih ngikhih-kikhih, Sungai
Seputih terus mengalir
Wai Andak kenahan batu, sungai
putih batunya nampak
Sekappung kena bendung, Sungai
Sekampung kena bendung
Najin wat ijah pilih, Meskipun
ada cara memilih
Telanjokh ana khadu, Tapi
sudah terlanjur
Nasib sangun mak uttung. Nasib
memang tak beruntung
Bukhoh tengah lautan, Buih
di tengah lautan
Nutuk imbusan angin, Mengikuti
hembusan angin
Khena do diriku ji, Begitulah
diriku ini
Najin miwang kebiyan, Meskipun
menangis seharian
Kah mawat dapok balin, Tidak
mungkin dapat berubah
Gelik luh mak beguna. Habis
air mata tiada berguna
Segala macom tetekha'an, Segala
macam pengalaman
Kucawa ko di sapa, Kukatakan
kepada siapa
Kattu mak gegoh pilih, Kalau
tak sama pilihan
Cukup pai tigok dija, Cukup
dulu hingga di sini
Cerita gelik tak ja, Cerita
habis di sini
Mahap terima kasih. Ma'af
dan terima kasih
Langganan:
Postingan (Atom)